Sabtu, 03 September 2011

ketika sail indonesia menyinggahi sabu raijua (1)

diterima dengan cium sabu, berakhir makan di kelaga

saat itu, hari baru mulai beranjak petang ketika ada rombongan perahu perahu kecil dengan layar mulai merapat ke pelabuhan seba kecamatan sabu barat kabupaten sabu raijua. tidak lama setelah itu ada perahu karet yang merapat di samping kapal kayu milik nelayan asal makasar dan mulai memanjat. maklum dermaga fery yang ada  di sana tidak memungkinkan para penumpang dari perahu perahu tersebut untuk berlabuh.

JOEY RIHI GA,Menia.
wajah mereka tidak kelihatan kuyu, namun ada sumringah terpancar ketika mereka menginjakkan kaki di ats dermaga. disana mereka sudah di sambut oleh para gadis dan jejaka sabu yang berpakaian adat dengan pernak perniknya.itulah sekilas pemandangan saat pertama rombongan sail indonesia tiba di sabu raijua. setelah di sambut dengan tarian ledo hawu mereka di suguhi air kelapa muda dan diarahkan di tenda yang ada di pelataran pelabuhan, disana sudah ada asisten I setda kabupaten sabu raijua Julius Uly yang mewakili penjabat bupati sabu raijua untuk menyambut para wisatawan yang tergabung dalam rombongan sail indonesia 2010. dalam sambutan yang disampaikan julius uly hanya mengucapkan selamat datang di pulau sbu dan selamat menikmati alam sabu dan pesona budayanya.
setelah acara seremoni tersebut, para wisatawan diangkut dengan sebuah bis damri menuju rumah raja di istana tenni hawu. disana para turis yang kebanyakan pasangan suami istri yang rata rata usianya telah mencapai setengah abad itu maulai berfoto foto sambil melihat berbagai aksesoris yang dipajang oleh pedagang di sabu raijua. ada yang melirik kain sarung dan jenis tenun ikat lainnya, adapu;a yang melirik aksesoris lain seperti kerajinan anyaman dari daun lontar dalam berbagai bentuk seperti dompet,tempat sirih piang dan lain lagi. setelah puas melihat lihat seputaran istana dan beberapa orang sempat membelinya rombongan kemudian menuju kampung adat namata di desa raeloro masih di wilayah kecamatan sabu barat. disana mereka menikmati indahnya batu batu tua, batu megalitik yang telah berusia ratusan bahkan ribuan tahun yang masih tertata secar baik oleh para pemangku adat sebagai tempat pemujaan bagi para dewa orang sabu. dari kampung namata rombongan yang dikoordinisr langsung oleh kepala dinas perhubungan, infokom dan pariwisata kabupaten sabu raijua Yusuf manu kemudian menuju kecamatan sabu timur dengan menggunakan tetap bis damri melintasi kecamtan sabu tengah. tempat tujuannya adalah rumah adat sabu yang juga sekaligus kediaman dan rumah jabatan penjabat bupati sabu raijua Thobias Uly. di kelaga teras depan rumah jabatan penjabat bupati sabu raijua Thobias uly sudah duduk menunggu dengan menggunakan pakaian adat seperti kepal suku. pakaian tersebut mulai dari destar di kepala hingga ikat pinggang dan pisau komando adat adalah pakaian yang hanya bisa dikenakan oleh mone ama atau kepala suku dan tua adat. saat rombongan tiba dengan tergesa gesa penjabat bupati langsung berdiri dihalaman depan untuk menyambut. para wisatawan datang kemudian menyorongkan tangan untuk berjabatan tangan, namun dengan cepat Thobias Uly langsung berujar "harus cium sabu," yang langsung diterjemahkan oleh seorang guide bernama dewi dan juga Yusuf manu. mendengar kata cium sontak sang bule langsung mencium sang penjabat bupati di sambut dengan tepuk tangan wisatawan lain yang juga sementara antri untuk memberi salam kepada si penguasa wilayah sabu raijua. setelah bersalaan para tamu dari luar negeri tersebut langsung diarahkan untuk masuk kedalam rumah penjabat bupati yang berlantai kayu dari batang pohon lontar atau orang sabu menyebutnya kelaga. setelah disampakan ucapan selamat datang oleh penjabat bupati dalam pantun adat sabu yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa indonesia dan kemudian oleh si pemandu menerjemahkannya dalam bahasa inggris. para tamu kemudian diarahkan untuk kembali ke halaman depan karena sudah ada para penari yang akan menyuguhkan tarian adatberupa tarian ledo hawu dan tarian pedo,a. ketika sampai pada tarian pedoa yang dibawakan oleh sanggar dari desa loborai para tamu di undang untuk juga berpegangan tangan menarikan tarian pedo,a. dengan girang para turis ikut bergembira dengan para penari bersama sama menari pedo,a. ada yang kelihatan berkeringat dan lelah tapi terus menebar senyum pada masyarakat yang datang menonton. setelah tiba jam makan malam pukul 19.00 para tamu dibawa kembali masuk kedalam rumah dan duduk di atas kelaga untuk menikmati makan malam."sesuatu yang tak terlupakan ,makan malam di rumah adat dengan makanan khas setempat,"ujar Cathy warga amerika kepada timor expres.(Bersambung)

ketika sail indonesia menyinggahi sabu raijua(2-habis)

bisa bercengkrama biar lewat penerjemah

saat pertama para wisatawan sail indonesia datang ke rumah penjabat bupati sabu raijua dan menyalami penjabat bupati Thobias Uly kata pertama yang keluar dari mulut sang penjabat bupati adalah "harus Cium". kata aneh tersebut harus diterjemahkan oleh sang pemandu sehingga para wisatawan langsung menerima salam adat sabu yang diminta Thoby Uly. dari mulutnya tidak satu katapun keluar bahasa inggris tpi hanya senyuman lebar dan bahasa tubuhnya yang ramah yang membuat para wisatawan merasa nyaman dan seperti di rumah sendiri.

JOEY RIHI GA, MENIA
ternyata bukan hanya dengan bahasa lisan kita bisa membuat nyaman orang asing yang baru kita kenal, tapi lewat bahasa tubuh dan tutur kita yang lembut dibumbuhi senyuman persahabatan mampu membuat orang yang tidak mengerti bahasa yang kita gunakan bisa merasa nyaman. ini bisa terlihat saat para wisatawan dengan senang dan muka penuh gembira menghabiskan waktu di kecamatan sabu timur tetapnya di ruah jabatan bupati sabu raijua Thobias Uly. para wisatawan bisa tersenyum penuh bahagia melihat tarian yang disuguhkan dan juga bisa berdecak kagum saat melihat indahnya kain tenun buatan para wanita sabu. saat para penari mau mempertontontonkan kebolehan mereka dalam menarikan tari ledo hawu dan tarian pedo,a, Thoby Uly sibuk mengarahkan para pemandu untuk menceritakan tentang tariamn yang akan di bawakan serta kain atau motif yang dikenakan oleh para penari.
"kita harus bisa menjelaskan secara detail kepada mereka supaya mereka bisa tahu, karna sebuah tarian akan bisa dinikmati dengan baik oleh para wisatawan kalau mereka tahu tentang cerita atau sejarah tarian tersebut. demikian juga dengan pakaian dan motif kain yang dikenakan oleh para penari. mereka bisa tahu bahwa motif tertenu hanya bisa di pakai oleh kaun bangsawan atau rakyat biasa atau dalam acara adat tertentu,"Ujar Thoby pada sang pemandu lokal di sabu.
suasana kekeluargaan terasa begitu kental saat acara makan malam di kelaga atau dadgeu rumah adat yang juga dipakai sebagai rumah jabatan penjabat bupati. menu yang dispkan berupa daging babi yang dimasak secara tradisional dan daging domba yang pedas membuat para wisatawan menambah porsi makannya tanpa rasa sungkan. " ayo semua harus tambah , ini adalah rumah anda sendiri," Ujar Thoby dalam bahasa indonesia yang diterjemahkan. mendengar itu para wisatawanpun tak lagi sungkan bahkan piring rotan bekas mereka makan diminta untuk dibawa pulang oleh para turis. permintaan itu tentu saja disetujui oleh sang penjabat bupati sekalipun harus menggantikannya kembali kepada para pemilik piring rotan."Boleh ambil dan jangan lupa baha pernah datang di sabu. nanti kalau sampai di negara masing masing jangan lupa cerita tentang sabu dan kalau bisa kembali lagi kesini," tambahnya.
mendengar perkataan tersebut seorang wisatawan bernama sharon dari inggris yang berbadan gempal langsung bangun dari sudut ruangan dan duduk di sebelah Thoby sambil berujar " kamu orang baik saya senang berkenalan dengan anda," Ujar sharon yang dibalas dengan senyum oleh sang penjabat bupati.
pada saat pamtan seorang turis yang bernama jery yang dituakan dalam rombongan menyampaikan ucapan terimakasih kepada sang penjabat bupati. "terimaksih telah menganggap kami sebagai keluarga sendiri itu adalah penghormatan tertinggi bagi kami. kami ingin melihat lebih dekat tentang sabu dan kami berharap akan kembali lagi. kami pasti akan bercerita tentang pengalaman ini pada sahabat dan kenalan kami dinegara masing masing,"Ujar Jerry.(Habis)
++geliat pengrajin lokal diera persaingan ekonomi global (1)++

*Dilindas bedcover, tikar pandan terkoyak dinegeri sendiri*

orang sabu dikenal dari buatan tangannya. orang raijua misalnya dikenal karena mumpuni menganyam tikar pandan. orang liae dikenal pandai membuat periuk tanah dan pandai besi. orang mehara ulet menun kalin adat. orang timu dan seba adalah lumbung pangan tempat barter hasil kerajinan lokal.
tapi apa yang diwariskan para leluhur seperti kerajinan tikar pandan kini tinggal safar terakhir. zaman berubah, dan orang mulai gampang melupakan identitasnya. zaman kasur empuk dilangkapi bedcover, atau tikar plastik buatan orang luar, sudah menjadi impian orang sabu. padahal tikar pandan adalah tikar kehormatan para raja ketika harus duduk diambang pintu rumah adat untuk berkumpul dan bermusyawarah, apakah tikar pandan itu masih ada???
JOEY RIHI GA, SABU

rambutnya sudah mulai memutih, tapi sorot matanya begitu tajam. tangannya yang hitam rapuh begitu lincah menganyam sebuah tikar didepan rumahnya. gulungan daun pandan yang telah dihaluskan tersimpan rapi dan tergantung diatap rumahnya. memang untuk menghasilkan sebuah tikar pandan yang baik membutuhkan banyak daun pandan. namanya Mina Degi perempuan setengah baya asal desa ledeunu kecamatan raijua,saat berkenalan timor express bulan november silam. walaupun dengan bahasa daerah yang sulit dimengerti, karena Mina hegi menggunakan bahsa raijua tapi dia tetap melayani dengan ramah setiap pertanyaan yang diajukan dalam bahasa sabu logat sabu sabu timur. dia bercerita bahwa setelah badai penyakit mengoyakkan mimpi orang raijua dimana rumput laut mati akibat penyakit dan pencemaran laut. maka orang raijua kelimpungan. Mereka yang dulunya tidak pernah memgang uang dalam jumlah yang banyak tiba tiba harus menerima kenyataan sebagai orang kaya baru dari hasil rumput laut. Mereka bingung tidak tahu mau dikemanakan uang tersebut, bagi yang ingin punya motor mereka bisa mewujudkannya, bagi yang ingin punya punya rumah lengkap dengan perabot dan sarana hiburannya juga bisa terwujud tapi tak sedikit pula yang uang nya habis hanya diarena judi entah itu judi ayam atau jenis judi lainnya sebab permainan judi jenis apa yang mereka tak kenal, mereka tahu bahkan lincah memainkannya, bukan saja lelaki bahkan wanita bukan lagi hal yang tabu. Hanya sedikit saja yang pikirannya bisa panjang untuk menuju bank selebihnya hanya di simpan di bawah bantal atau di bawah tempat tidur tidak tahu uang itu harus di simpan dimana karena bagi mereka di bawah bantal atau di bawah tikar atau di lubang bambu rumah mereka adalah tempat teraman untuk menimpan uang. Benar benar bak mimpi di siang bolong. Kenyataan bahwa hidup mereka berubah memang tak terbantahkan. Namun ketika itu semua berakhir seiring rumput laut yang lenyap di raijua maka mereka bingung hendak berbuat apa, hidup sudah terlanjur enak. Ada yang kembali ke pohon tuak tapi ada juga yang mencari profesi lain atau kembali ke habitat. Orang raijua terkenal sebagai pengrajin tikar pandan, buatannya halus dan rapi tapi sekarang kurang diminati karena kalah saingan dengan tikar buatan pabrik, padahal dulu menjadi tikar para raja. Mina hegi mengungkapkan bahwa dirnya menjadi pengrajin tikar pandan karena memang hanya itulah keahlian yang diwariskan para leluhur padanya. dari sisi penghasilan tidak terlalu tidak terlalu memuaskan. Namun yang menjadi keprihatinannya saat ini adalah orang raijua sudah tidak cakap lagi menganyam tikar pandan, mereka justru lebih lincah mengikat rumput laut pada talinya. padahal nenek moyang selalu menurunkan keahliannya membuat tikar pandan bagi anak cucunya. Alasannya sederhana mengapa mereka meninggalkan kerajinan tikar pandang karena selain harganya murah, pembuatannya yang memakan waktu , dulu semua orang raijua bisa membuat tikar pandan sehingga tikar menjadi tak memiliki nilai jual. mina hegi berkisah bahwa dia harus keluar masuk kampung untuk mengumpulkan selembar demi selembar daun pandan di raijua untuk dikumpulkan sebagai bahan baku pembuatan tikar pandan. Untungnya tidak seberapa tapi lumayan buat makan dan biaya sekolah anak. disaat rumput laut kembali dibudidaya dinegeri gajah mada ini apakah tikar pandan akan ditinggalkan menjadi cerita pengantar tidur anak cucu?? ditangah maraknya persaingan di era global ini, kenapa orang sabu tidak lagi ingin merasakan hangatnya pelukan tikar yang menjadi lambang penghormatan ketika pahlawan nusantara duduk bersanding dengan para nikimaja yang kesohor hingga kolong langit asia kecil ?? mampukah orang raijua melakukan itu semua ???(bersambung)

++geliat pengrajin lokal diera persaingan ekonomi global (2)++

*menjaga kehormatan motif daerah dari para penjiplak*

jiplak-menjiplak motif daerah kini lagi marak dilakukan oleh mereka yang ingin mengeruk keuntungan lebih. disisi lain para penenun tradisional harus bertahan hanya demi cinta dan martabat nenek moyang, yang telah diwariskan turun-temurun. anehnya begitu banyak orang lebih suka memakai motif tiruan, daripada motif yang ditenun dengan rapi oleh para pengrajin. ditengah kegelisahan ini apakah pemerintah akan segera memproteksi motif dan corak tenunan sabu menjadi hak paten yang tidak boleh ditiru?

JOEY RIHI GA,Sabu
untuk memastikan bahwa apakah para perempuan dan anak gadis di sabu raijua masih terampil menenun kain adat sabu, maka harian ini melakukan penelusuran ke kecamatan hawu mehara tempat para penenun sabu membuat kain tenun adat warisan para leluhurnya.
saat memasuki desa lobohede salah satu desa di kecamatan hawu mehara harian ini langsung disuguhi panorama yang cukup indah dan mempesona. cukup dengan mengangkat kepala dan melemparkan pandangan kearah barat anda akan menkimati indahnya deburan obak di pesisir wilayah mehara. Kicauan burung maupun suara kokok ayam ditimpali suara tokek seakan memberi nuansa alam yang masih putih dan memberi kesan tak terlupakan bagi pengujung yang datang ke kecamatan mehara.
Mendekati bibir pantai di desa lobo hede pekan lalu ada seorang wanita setengah baya yang sedang duduk berdendang lagu sabu di degu-degu rumah panggung miliknya sambil menenun kain adat sabu Khas mehara. Bunyi ketukan alat tenun tradisional yang lincah dimainkan sang penenun seakan mengiringi nyanyian yang di dendangkan. Sebuah pemandangan desa yang indah dan tak bisa di jumpai di tempat lain. ketika ada suara anjing menggonggong tanda bahwa orang baru datang. secara tiba –tiba wanita penenun itu berhenti dan mendongakakn kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Ketika melihat orang baru yang datang dia memberi isyarat dengan bahasa sabu dan seketika itu juga anjingnya berhenti menggongong. Saat dihampiri timor express perempuan setengah baya yang bernama Ratu Mata itu tersenyum mempersilahkan duduk. Ratu Mata bercerita dalam bahasa indonesia yang terbata bata sesekali ditimpali bahasa sabu mencoba menceritakan kebiasaan wanita mehara dalam hal kerajinan menenun. Dulu katanya setiap wanita anak mehara harus bisa menenun dan itu sudah diturunkan secara turun temurun dan menjadi warisan. Memang hasil dari menenun tdak seberapa tapi itulah keahlian yang bisa mendapatkan uang. Tapi sangat disayangkan sekarang sudah banyak anak anak gadis mehara yang tidak tahu lagi menenun, tangan mereka tak bisa lagi memintal dan membuat benang dari kapas dengan alat tenun tradisional warisan leluhur. Tangan mereka kini lebih lincah bermain tombol telepon selular ketimbang menennun. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di depan televisi dari pada membersihkan kapas untuk bahan benang buat memintal. Ketika ditanya mengapa masih bergelut dengan menenun padahal sudah banyak orang meninggalkan warisan leluhur tersebut.Ratu Mata menceritakan bahwa dalam kurun waktu lebih kurang sepuluh tahun orang mehara tiba – tiba dimanjakan oleh uang hasil rumput laut, semua warga, kecil dan besar lelaki perempuan bertani rumput laut sehingga mereka meninggalkan kebiasaan menenun atau mengiris tuak. Orang mehara tiba tiba berubah jadi orang kaya baru dari hasil rumput laut, uang yang banyak membuat mereka bingung hendak dibuat apa, ada yang buat rumah beli televisi, beli motor dan juga beli keperluan lain bak orang kota yang kaya. Mereka lupa untuk menabung, mereka lupa menyisakan uang sebab mereka berpikir bertani rumput laut adalah cara yang enak buat mengais rupiah yang tak mungkin dilanda bencana. Tapi kenyataan bahwa rumput laut tiba tiba mati terserang penyakit dan pencemaran laut orang mehara kelimpungan, mereka bingung karena harus menerima kenyataan lahan uangnya  tidak bisa lagi berproduksi. Serasa langit menjadi runtuh bumi tempat berpijak seakan bergerak turun, wajah berseri yang dulu selalu nyata dalam kehidupan sehari hari kini nampak lesu tak berpengharapan. Kenyataan inilah yang membuat Ratu Mata kembali mengambil peralatan tenun yang sudah berdebu karena telah disimpan lama dipensiunkan dari pekerjaan seorang wanita mehara. Lalu kemudian dengan modal uang yang masih tersisa kemudian membeli benang dan kembali menunun kain adat. Hasilnya memang tak seberapa tak cukup buat makan sehari hari atau biaya sekolah anak dari hasil penjualan kain tenun. yang harus diapresiasi dari para penenun di mehara adalah kegigihan mereka untuk tetap mempertahankan apa yang menjadi warisan nenek moyang mereka. kini ditengah era globalisasi yang mengganas motif daerah menjadi sasaran untuk dijadikan lahan uang. ditoko-toko anda tinggal memilih. harapannya agar jangan samapai para penenun di sabu harus mengalah oleh ganasnya jiplak menjiplak lalu mereka harus pasrah memakai kain tenunan palsu sehingga akhirnya mereka juga lupa bagaimana menenun corak dan motif yang melambangkan siapa sesoarng itu, darimana dia berasal dan bagaimana kedudukannya ditengah masyarakat. semoga ini cepat diproteksi oleh pemerintah sehingga kain sabu yang telah melanglang buana tidak terkoyak oleh persaingan ekonomi dan ambruk oleh dunia jiplak menjiplak. semoga.(habis)    


ritual adat yang boros ditengah sulitnya ekonomi masyarakat sabu (1)

Pemau Do made, meretas jalan menuju nirwana

dalam tradisi orang sabu banyak ritual-ritual adat yang sakral dan cukup menelan biaya yang cukup tinggi. salah satu ritual yang cukup banyak menelan biaya ditengah sulitnya ekonomi adalah ritual penyucian arwah atau pemau do made. hal ini menjadi sebuah dilema ditengah langkah pemerintah mengintruksikan penghematan namun dilain pihak adat dan budaya harus tetap dilestarikan.
JOEY RIHI GA/TIMEX

kematian bagi masyarakat adat atau yang masih menganut aliran kepercayaan jingitiu di pulau sabu adalah sebuah proses menuju dunia keabadian. bagi mereka jika sesorang meninggal dunia maka masih ada sejumlah proses ritual yang harus dilakukan oleh keluarga yang masih hidup. untuk itu maka setiap orang sabu yang meninggal dunia dipercayakan rohnya akan melenggang ke nirwana atau surga apabila telah dilakukan penyucian arwah atau pemau do made bagi orang yang telah meninggal tersebut. untuk melakukan ritual ini maka dibutuhkan dana yang cukup lumayan karena akan membunuh korban sembelihan mulai dari ternak kecil hingga ternak besar, tergantung dari dari strata sosial sesorang.
untuk mengenal lebih dekat ritual penyucian arwah atau pemau do made harian timor express harus mengikutinya selama tiga hari berturut turut di salah satu kampung adat bernama rae peda,o yang terletak di kelurahan limaggu kecamatan sabu timur akhir bulan lalu. ritual penyucian arwah harus dilakukan pada bulan tertentu sesuai dengan kalender adat dan perputaran bulan. dilakukan pada hari ke enam setelah buan purnama pada bulan kedelapan tahun masehi setiap tahunnya.
salah satu tokoh masyarakat dan pelaku adat setempat Huki Tade kepada timor express mengatatakan, orang yang meninggal dalam sebuah kampung adat tertentu yang diikat oleh kekerabatab dan hirarki suku akan melakukan ritual penyucian arwah secara serentak.
"ritual ini akan dilakukan atas kesepakatan semua  keluarga dari setiap orang yang meninggal dunia karena ini menyangkut dengan dana yang besar yang akan dihabiskan. ritual ini tidak dilakukan sewtiap tahun. bisa lima tahun sekali atau lebih sehingga jika ritualnya sudah dilakukan ada puluhan orang mati yang arwahnya akan disucikan,"demikian kata Huki.
ritual akan dilakukan selama tuga hari berturt-turut. pada hari pertama adalah hari dimana semua keluarga dari orang yang meninggal akan berkumpul. disini semua kerabat handaitolan serta rang yang berasal dari kampung tersebut akan berkumpul dengan membawa masing masing ternak dan makanan berupa besar atau kacang hijau. kaum perempuan bertanggungjawab untuk mengumpulkan makanan berupa beras sementara para lelakinya bertanggungjawab mengumpulkan ternak. setelah semuanya berkumpul maka pada hari kedua akan dilakukan ritual penyucian bagi setiap orang yang telah meninggal di kuburan mereka masing masinh yang ditandai dengan batu. kuburan orang mati yang masih jingitiu berbentuk bulat seperti sumur dimana orang yang meinggal akan di ikat berbentuk bulat lalu dikuburkan. dihari kedua ritual setiap keluarga dari yang meninggal seperti anak istri atau akak adit dan ibu bapaknya akan memakai pakaian adat dengan motif tertentu sesuai dengan stratanya. mereka akan diterima oleh orang yang paling dituakan dalam kampung dengan memangku mereka maisng masing sambil melafalkan bahasa adat yang keramat. bahasa tersebut intinya agar yang telah meninggal tidak boleh lagi mengganggu keluarga yang masih hidup akarena mereka akan disucikan jalanya menuju nirwana. dengan demikian maka mereka sudah berbeda alam dengan dunia orang hidup.ritual ini ditandai dengan memasak dalam satu periuk berbagai jenis makanan mulai dari beras merah,kacang hijau,kacang hitam beras ketan, maupun sorgum. yang memasaknyapula adalah wanita wanita tua dengan tidak boleh berbicara. setelah itu maka para lelaki telah menyiapakan seoekor domba putih dipintu luar kampung sevbelah barat untuk dipotong  menjadi dua. "domba putih yang dipotong menjadi dua ini adalah lambang persembahan dan kurban bakaran bagi sang khalik sebagai tanda penyucian bagi mereka yang telah meninggal. binatang korban ini tidak boleh dimakan oleh orang yang satu suku dari orang yang ada dalam kampung tersebut karena itu akan mendatangkan malapetaka,"jelas Huki.
pada malam hari kedua bagi orang mati yang meninggalkan istri atau sumai akan dilakukan ritual khusus dimana mereka akan berpakaian putih-putih dibungkus dari kaki hingga kepala menyerupai pocong. mereka kemudian dibawa keluar kampung pada tengah malam dengan nyanyian adat dan tangisan ratapan menuju tempat pembuangan barang barang yang kotor dan berdosa.setelah dari situ mereka akan dimasukkan kerumah adat kemudian disucikan dengan air dan asap dupa.
pada hari ketiga pagi harinya akan dilakukan prosesi bunuh binatang untuk dibagikan kepada setiap orang yang datng membawa sumbangan baik it berupa ternak, beras atau uang. ratusan binatang akan dipotong kemudian dibagikan dalam sebuah tempat yang dalam bahsa sabi di sebut pai.
"pembagian daging korban kepada setiap orang berdasarkan besarnya bawaan mereka. seperti yang bawa binatang maka dia memperoleh daging yang lebih banyak dan seterusnya. itu sudah menjadi tradisi dan adat kita disini.,"ungkap huki.
pada malam hari ketiga akan dilakukan kegiatan yang mengekspresikan kegembiraan berupa permaian lompat alu atau permainan bambu gila kalau dipulau ambon. selain itu ada juga tarian pedoa yang dilakukan secara masal dalam kampung. kendati demikian ritual penyucian arwah ini akan dikatakan genap dan selesai setelah tiga kali purnama setelah ritual penyucian yang disebut dengan dabo rao.
dalam acara tersebut binatang yang sisa yang belum dibunuh akan dibunuh untuk dimakan beramai ramai leh keluarag sebagai tanda suka cita bahwa keluarga mereka telah tiba dinirwana setelah mereka yang hidup meretas jalanya menuju nirwana lewat prosesi atau ritual sakral pemau do made.( bersambung)


ritual adat yang boros ditengah sulitnya ekonomi masyarakat sabu (2-habis)

darah ki,i pe akki dan ratusan ternak sucikan arwah menuju nirwana

dalam setiap ritual penyucian arwah ratusan binatang seperti babi dan kambing menjadi tak berarti dan tak bernilai bagi orang sabu. bayangkan untuk ritual tersebut binatang yang dikorbankan jika dikalkusasi dalam bentuk rupiah nilainya mencapai ratusan juta bahkan miliard rupiah. namun bagi orang sabu sesulit apapun ekonominya namun tradisi dan budaya harus tetap dilaksanakan. lantas bagaimana soslusinya sehingga adat tetap dijalankan dan penghematan tetap bisa dilakukan??

JOEY RIHI GA/TIMEX

darah binatang pertama yang tumpah dalam ritual penyucian arwah atau pemau do made adalah darah seekor anak domba putih atau ki,i pe akki yang dipotong menjadi dua dipintu bagian barat sebuah kampung adat. darah domba itulah yang menjadi lambang penyucian selain darah ratusan ternak yang akan disembelih pada keesokan harinya pada puncak ritual penyucian arwah.
"semua keluarga dari yang meninggal dan akan disucikan akan membawa binatang untuk dikorbankan selain itu juga makanan berupa beras,jagung dan kacang. ini sudah menjadi tardisi dan budaya sehingga sesulit apapun kehidupan masyarakat, bila sudah tiba saatnya untuk dilakukan sebuah ritual adat maka nilai atau jumlah biaya menjadi nomer yang kesekian,"Ujar Huki Tade salah seorang pemangku adat. dia mengakui bahwa saat ini bintang di sabu tidak lagi seperti jaman dulu yang setiap rumah memilki puluhan ternak. ini akibat banyaknya aturan yang mengatur tentang ternak dan lahan pertanian ataupun cara hidup masyarakat yang tidak lagi bertumpu pada peternakan akibat minimnya lahan ternak dan sulitnya pakan di sabu raijua.
"kalau dulu sekitar 20 tahun lalu kita tidak pernah miskin ternak, sehingga ini bukan hal yang sulit untuk melakukan sebuah ritual adat yang besar seperti sekarang. ini pertanda ada penurunan dari cara hidup yang sudah mulai malas memlihara binatang. dulu memang itulah yang bisa dilakukan sebagai sumber ekonomi tapi sekarang seiring berlalunya waktu dengan cara mencari uang yang kian melebar maka ternak bukan lagi menjadi pilihan utama bagi masyarakat sabu,"Papar Huki.
diaktakan untuk melaksankan sebuah ritual penyucian arwah saat ini maka masyarakat sudah banyak yang hanya memberi sumbangannya dalam bentuk uang tunai dan tidak berupa binatang lagi. uang yang di sumbangkan akan dicacat dan digunakan untuk membeli ternak buat di semeblih. binatang tersebut nantinya akan dibunuh dan dibagikan kembali kepada setiap orang yang datang membawa sumbangan baik berupa, ternak, makanan atau uang.
penjabat bupati sabu raijua Thobias Uly dalam kesempatan terpisah kepada timor express mengatakan bahwa tidak bisa dipungkiri bahwa setiap ritual adat menelan biaya yang tidak sedkit. untuk hal itu pemerintah telah melakukan upaya pencerahan bahkan mengeluarkan edaran kepada masyarakat agar melakukan penghematan-penghematan dalam berbagai kegiatan adat atau pesta pesta lainnya.
diakui bahwa menjadi sebuah dilema bagi pemerintah untuk melarang melakukan ritual adat karena itu sudah menjadi tradisi dan budaya yang dilakukan secara turun temurun oleh nenek moyang yang masih menganut aliran kepercayaan jingi tiu. disisi lain itu juga adat yang perlu dilestarikan karena merupata aset budaya yang akan menjadi potensi pariwisata di sabu raijua.
"kita tentu tidak bisa melarang mereka melakukan ritual adat tapi yang kita anjurkan agar mereka melakukan penghematan seperti jumlah ternak yang tidak terlalu banyak dibunuh,"ujar Thobias.
memang antara pemborosan dan ritual adat yang harus dilakukan menjadi sebuah dilema yang sulit dientas. sebab ritual tanpa syarat dan korban adalah menjadi hal yang tidak berkenan dalam budaya orang sabu. sama seperti ritual penyucian arwah yang dalam keyakinan mereka bahwa darah binatang yang mengalir adalah lambang penyucian sekaligus sebagai jalan menuju alam keabadian.***

JOEY RIHI GA/TIMEX
JUAL PERIUK : mata kaho salah satu pengrajin periuk tanah sementara berjalan keliling untuk menjajakan hasil kerajinan tangannya. untuk menjaul periuk tersebut dia harus berjalan berpuluh kilometer.

potensi dan indentitas lokal yang terlupakan di sarai (1)

identitias dalam sebongkah tanah liat yang kian memudar

sabu raijua memiliki potensi lokal yang menjadi penopang kehidupan masyarakatnya. keadaan alam telah menjadikan mereka orang-orang tangguh dalam mengelola apa yang ada di sekitar mereka, di kecamatan liae yang tandus, penduduknya hanya bisa berteman dengan tanah liat yang diubah menjadi periuk tanah. dan itu telah menjadi indentitas orang liae sebagai pengrajin periuk tanah di tempat lain di sabu mana mungkin anda menemukan tukang periuk. tapi, kini di liae sendiri, potensi itu kini kian memudar, diterjang badai industri aluminium.

JOEY RIHI GA,MENIA
Namanya ina mata kaho, warga desa kota hawu kecamatan liae. waktu bertemu dengan wanita ini, hari sudah tepat berada di ubun ubun. dia lagi terengah-engah menahan nafas yang memaksa paru-parunya untuk bekerja ektra. bagaimana tidak, dia harus berjalan kaki sekitar 15 kilometer dari kota hawu desa di kecamatan liae menuju bolou kecamatan sabu timur dengan pikulan diatas pundaknya. dua buah periuk tanah yang berukuran besar dia bawa untuk dijual kepada siapa yang membutuhkannya.dia berharap bahwa di hari proklamasi RI yang Ke 65 tersebut periuk tanahnya bisa laku. memang harganya tak seberapa cuma tujuh puluh ribu sebuah tapi masih bisa ditawar.
setiap orang sabu sudah tahu bahwa yang menjual periuk tanah cuma orang liae, lainnya tidak,itu pula yang menjadi potensi dan identitas mereka sebagai orang liae. ya..indentitas dan kebanggaan tentunya. ketika diajak ngobrol wanita yang berusia 42 tahun itu bercerita tentang masa lalu dimana periuk tanah adalah media satu satunya bagi orang sabu sebagai tempat masak, sebagai media penyimpanan gula sabu, sebagai tempat menampung air serta seabrek kegunaan lainya sebelum mereka mengenal, panci, dandang, tacu dan peralatan aluminium lainnya. orang liae tak punya tanah yang subur sehingga dalam kehiduapan mereka sehari hari hanya bertumpu pada tanah lait yang mereka olah sebagai periuk tanah. mereka membarternya dengan gula dan makanan di tempat lain seperti ke sabu timur atau sabu barat bahkan mehara. dulu setiap pemuda-pemudi laki perempuan akan belajar bagaimana membuat periuk tanah. yang pandai periukpun tidak disemua wilayah kwecamatan liae. hanya ada beberapa tempat yang menjadi sarang pengrajin periuk seperti di kota hawu, deme, hallapadji. namun kesohornya hingga seluruh pelosok sabu. entah kenapa hanya orang liae yang bisa membuat periuk yang lain tidak. sama seperti hanya orang raijua yang bisa menganyam tikar pandan yang lain tidak. kenapa demikian orang sabu sendiri tak tahu secara pasti. apakh itu memang warisan dari leluhur bagi setiap keturunan di masing masing wilayah di sabu raijua?  namun kini pengguna periuk tanah sudah semakin sedikit, orang mulai gengsi menggunakan potensi lokal yang ada, orang sabu mulai malu dengan identitasnya sendiri. mereka lebih memilih barang toko, barang pabrik yang keren tanpa mereka tahu bahwa barang barang tersebut secara perlahan telah membunuh potensi dan identias orang sabu itu sendiri. jka demikian lantas apa yang harus diperbuat? harus rela melepas apa yang menjadi ciri orang sabu tersebut. dalam deru dan hiruk pikuknya genderang pemilukada sabu raijua, penulis belum pernah mendengar ada kandidat yang ingin mengangkat kembali potensi yang ada di setiap daerah. misalnya bagaimana memperhatikan kain tenun di mehara, bagaimana memperjuangkan tikar pandan di raijua tetap di pakai dan bisa dipasarkan ke luar sabu raijua atau bagaimana periuk tanah di liae dirubah menjadi gerabah yang bermutu dan berkualitas. di sulap menjadi vas bunga yang cantik atau asbak rokok yang mempesona sehingga geliat ekonomi kecil bisa menjalar diurat nadi pulau sabu. orang sabu menanti, namun setiap orang yang datang tak pernah melihat potensi tersebut. mata mereka terlampau jauh memandang ke tempat lain tanpa sadar bahwa kaki dan tubuh mereka sementara rebah dan berbaring di bumi rai hawu. mereka hanya menjanjikan sesuatu yang memang orang sabu belum liat. seperti dongeng pengantar tidur si buyung.(bersambung)



JOEY RIHI GA/TIMEX
ANYAM TIKAR : Mamo kedo salah satu pengrajin tikar pandan dari desa kolorae sementara menganyam tikar pandan untuk di jual. untk menghasilkan sebuah tikar pandan memerlukan waktu seminggu.

potensi dan indentitas lokal yang terlupakan di sarai (2-habis)

tikar pandan yang terkoyak dibumi gajah mada

tikar pandan yang ada di pulau sabu dan raijua hanya bisa dibuat oleh orang raijua, orang sabu dari tempat lain tidak bisa menganyam tikar kehormatan bagi orang sabu tersebut. tapi seiring waktu, tikar pandan yang menjadi tikar kebanggaan tersebut harus koyak oleh menjamurnya kasur busa,karpet dan sejenis tikar dari palstik yang lebih keren bila dibanding dengan daun pandang yang telah dihaluskan sebelum dianyam menjadi sebuah tikar.

JOEY RIHI GA,MENIA
mencari daun pandan rupanya sudah menjadi pekerjaan yang sangat sulit saat ini di pulau raijua. tidak seperti dulu yang dengan gampangnya orang bisa mendapatkan daun pandan sebagai bahan baku untuk membuat tikar pandan atau peralatan lainnya seperti tempat menaruh barang, makanan atau tempat menaruh sirih pinang atau oko mama dalam bahasa dawan. bagi pengrajin tikar pandang mereka harus merogoh kocek mereka demi mendapatkan daun pandan. padahal harga jualnya jika sudah menjadi sebuah tikar tidak terlalu mahal, karena memang sudah sedikit sekali oarng sabu mau menggunakan tikar buatan tangan sendiri dalam berbagai acara baik itu acara keluarga hingga acara akbar. mereka lebih bangga jika mereka duduk di atas karpet, tikar plastik bahkan berbaring di kasur busa. jika demikian sebegitu parahkan tikar pandan itu terkoyak dibuminya sendiri dan tanah yang dibanggakan sebagai tempat asal maha patih pada jaman majapahit itu? salah satu pengrajin tikar pandan mamo kedo yang ditemui di desa kolorae kecamatan raijua belum lama berselang, kepada timor express mengatakan bahwa dirinya terpaksa tetap menajalani profesi turun temurun tersebut karena memang hanya itulah yang bisa dilakukan sambil menanti kondisi laut membaik untuk kembali berbudidaya rumput laut.
"kalau untuk hidup memang tidak bisa lagi ama, soalnya ini daun pandan sa kitong harus beli. nah untuk membuat satu tikar perlu waktu satu minggu. kalau dijual harganya juga tidak mahal paling sekitar limapuluh ribu. intinya kita kerja ini supaya kita punya identitas ini jangan hilang saja karena memang kita orang raijua orang kenal karena tikar pandannya,"ujar mamo dalam bahasa sabu dialek raijua yang khas.
pantauan timor express di raijua, untuk mendapatkan bahan baku maka ada masyarakat yang berusaha mencarinya di hutan kemudian memotongnya untuk dijual. ada juga yang memang sengaja memelihara pohon pandan di pekerangan rumahnya kemudian daunnya di jual jika tidak punya waktu lagi untuk menganyam tikar. "cuma yang dulunya ada kebun pandan sekarang mereka sudah tebas habis karena mereka sudah tidak legi membuat tikar.  mereka lebih memilih untuk kerja rumput laut atau bagi anak anak muda lebih suka keluar pulau untuk merantau bahkan ada yang pergi TKW. jadi kalau dulu setiap muda mudi harus bisa dan trampil mambuat tikar pandan sekarang tidak lagi. jari mereka sudah terlampau kaku untuk memegang dan menghaluskan daun pandan. tangan mereka justru lebih lincah menari diatas tuts handphone. mereka sudah lupa berdendang  sambil menganyam, mereka lebih suka bercerita kilaunya rantauan sambil bergaya dengan pakaian moderen. celena umpan, celana kaki botol bahkan baju ketet ditas pusar. tidak lagi memakai kain sarung dan kebaya. di raijua anda hany akan bisa menemukan nuansa tradisionalnya pada warga yang berusia tua. jika demikian maka jangan heran jika tikar pandan itu akan semakin terkoyak dan hanya akan menjadi kisah bahkan dongeng di hari esok. lantas yang yang punya tanggungjawab untuk tetap mempertahankan ini semua? orang raijua? tentu. semoga dengan semangat otonomi yang ada tidak sampai menggerus dan mengubur setiap potensi, indetitas bahkan budaya leluhur yang telah mengurat akar dalam sejarah sabu raijua.***








foto: JOEY RIHI GA
TAJI AYAM: Masyarakat di Kecamatan Liae sementara melaknakan ritual adat Bangaliwu

+++Mengenal budaya orang sabu.+++
*Bangaliwu, ritual perdamaian yang sakral*

Sabu dan Raijua adalah dua pulau di kabupaten kupang yang kini telah dilebur menjadi daerah otonom melalui palu DPR-RI di Senayan tanggal 28 oktober 2008 yang menghasulkan undang undang no 52  tentang pemekaran sabu raijua menjadi daerah otonom.
Dalamkehidupannya orang sabu tak pernah lepas dari adat dan budaya yang begitu melekat dan membiru dalam kegitan keseharian mereka, mulai dari ritual, kelahiran,ritual akil balik, ritual nikah adapt, ritual kematian serta bereebagai ritual lainnya dalam perjalanan panjang kehidupan orang sabu. Belum lagi ritual yang mengungkapkan soal sukacita, permusuhan maupun perdamaian yang hingga kini masih kukuh di pegang oleh orang sabu walau kini telah menjadi sebuah kabupaten, seakan tak pernah tersentuh oleh perubahan apapun ritual adapt di sabu tetap berjalan seiring dengan pergantian hari dan perputaran bumi mengelilingi mata hari. Pulau ini memiliki banyak sebutan tergantung dari cara orang melihat sabu dan mengenal adapt istiadatnya lalu memberi nama, ada yang bilang pulau para dew karea memang dalam kehidupan mereka tak lepas dari ritual bagi para dewa (Deo) setiap saat yang berpatokan pada kalender adat ( Warru hawu).
Dari sekian ritual atau acara adat yang ada di sabu raijua salah satu ritual Bangaliwu, nama bangaliwu juga merupakan salah satu nama bulan dalam alemnder adat dimana ketika bulan ( warru bangaliwu) ritual bangaliwu itu akan dilakukan. Dan untuk mengetahui lebih dekat acara bangaliwu harian timor express bertandang ke salah satu kecematan di sabu raijua yakni kecamatan liae yang bertepatan dengan pelaksanaan acara bangaliwu, sebab setiap acara ritual adapt tertentu seperti bangaliwu, atau hole acaranya di gilir dari raijua hingga seluruh sabu dengan waktu yang telah ditentukan menurut kalender adat sehingga masing-masing wilayah seperti dimu,liae,mehara, habba, raijua mendapatkan giliran dengan berpatokan pada hitungan bulan purnama.
Salah satu tokoh adat dan tokoh masyarakat dari desa Loborui kecamtan liae Markus Dake yang diminta camat liae Nimrot Bengkiuk untuk menemani timor expres menjelaskan bahwa ritual bangaliwu adalah ritual perdamaian diantara suku suku yang ada di sabu. Markus dake menjelaskan jaman dulu sering terjadi pertempuran di antara suku suku yang ada di sabu, dalam setiap peperangan tak sedikit korban jiwa yang melayang, untuk itu maka para pimpinan adapt seluruh sabu raijua kemudian bersepakat bahwa  tidak boleh lagi ada pertempuran fisik manusia tapi harus dig anti dengan media lain maka disepakati akan dig anti dengan ayam. Sehingga sejak itulah pertempuran tidak pernah lagi terjadi karena telah diganti dengan taji ayam yang melambangkan sebuah perdamaian keinginan untuk tidak saling membunuh tapi memelihara perdamaian.
Ritual adat bangaliwu di kecamatan liae dipusatkan pada sebuah puncak bukit di pertengahan dua desa yakni desa ledeke dan desa eilogo. Ditempat itu para ketua adat      ( Deo Rai) akan memagang pisau pusaka serta berpakaian adat lengkap, berselimut kain adat putih, menggunakan pengikat kepala atau destar dengan berbagai aksesoris dilehernya dengan seekor ayam jantan putih di lengannya akan mendaki jalanan terjal menuju atas bukit diikuti para tua adat lainya sesuai dengan struktur yang telah di atur kemudian diikuti oleh sanak saudara, anak cucu dan masyarakat umum lainnya. Di atas bukit tempat ritual bangaliwu akan dilakukan terletak beberapa buah batu megalitik yang indah diapit oleh dua pohon nitas yang dianggap sebagai tempat roh para leluhur dan para dewa bersemayam sehingga tidak boleh satu orang pun memetik daun nitas yang ada atau memindahkan batu sekecil apapun di tempat ritual yang telah berlangsung secara turun temurun. Orang atau warga yang boleh sampai ke tempat ritualpun adalah benar benar dari wilayah liae, tidak diperkenankan dari suku atau wilayah lain seperti dimu,mehara,habba dan raijua untuk naik ketempat upacara sebab kalau ada yang melanggar maka ada musibah yang akan menimpa.
Ketua adat atau Deo rai yang memegang peranan dalam ritual bangaliwu ini ketika tiba di atas bukit langsung mengucapkan bahasa sakral yang hanya diucapkan ketika ritual bangaliwu, kemudian menempatkan tempat sirih pinang di beberap tempat diatas batu serta di bawah pohon yang ada disekitar tempat ritual. Setelah sang deo rai melakukan ritual menempatkan sirih pinang sambil beruap bahasa sakral yang susah di maknai arau dimengerti oleh orang awam, maka deo rai bersama salah satu tetua adat setempat kemudian mengikat ayam yang dibawah dari rumah masing masing dengan pisau taji. Cara memasang piosau tajinyapun tidak seperti ayam lain yang hanya satu kaki yang di pasang pisaunya, tapi dalam ritual ini kedua kaki ayam akan diikat dengan pisau taji kemudian dilepas untuk berkelahi. Setelah salah satu ayam mati maka doe rai akan kembali mengucapkan kata kata sakral yang bila di terjemahkan secara lurus berbunyi “inilah tanda dan lambing perdamaian yang telah dilakukan secara turun temurun dan sejak saat ini jangan ada lagi peperangan diantara kamu, sesunggungnya bergangdengan tanganlah membawa sabu ke amanat leluhur menjadi pulau impian semua insan,”
Saat mengucapkan kata kata tersebut tangan deo rai akan diancungkan ke atas seperti melepas berkat atau meminta sesuatu. (joey rihi ga)
+ + + Lebih dekat dengan masyarakat tradisi di raijua (1)+ + +.

**Menikmati Aroma Eksotis Adat di Pulau  Raijua.**

Nama Raijua sontak terkenal setelah disahkan menjadi sebuah kabupaten hasil pemekran dari kabupaten kupang yang disahkan para dewan yang terhormat di senayan lewat undang undang otonomi daerah no 52 tahun 2008 silam. Ya.. kabupaten sabu raijua, menyebut kabupaten bungsu di NTT ini serasa kurang lengkap bila tak menyebutkan raijua, keneapa harus ada raijua, karena walaupun dua pulau ini terpisah oleh selat namun dalam mitos dan sejarah orang sabu dan raijua, bahwa keberadaan pulau sabu raijua karma di topang dua tiang kokoh yakni bukit Ketita di raijua dan bukit merabbu di sabu. Anda ingin tahu lebih dalam soal raijua, kami ajak anda berpetualang di negeri yang dikatakan tempat mahapatih gajah mada berada menyatukan nusantara.
                                      
Joey Rihi Ga, Seba.
Jam menunjukan pukul 6 pagi ketika harian ini hendak menyebrang ke pulau raijua, pulau yang terletak di bagian barat pulau sabu. Untuk sampai disana harus menumpang perahu layar atau perahu motor yang sudah disiapkan para nelayan di dermaga seba sabu barat.
Fajar pagi adalah kapal kayu meilik nelayan dari sulawesi yang membawa timex menuju raijua belum lama ini bersama dengan rombongan penjabat bupati sabu raijua Thobias Uly. Keramahan penumpang akan anda rasakan ketika dalam pelayaran dengan jarak tempuh kurang lebih satu jam perjalan. “ ini kita harus berangkat pagi ama, karna nanti kalau su siang arus su deras jadi kalau pagi begini masih aman,” kata miha ratu pria asal desa ballu yang duduk disamping saya. Setelah kurang lebih 30 menit berlayar, arus selat raijua mulai terasa, kapal mulai sedikit oleng dan terasa bergetar oleh arus yang dilalui kapal. Tapi suasana itu seperti tidak terasa oleh para penumpang, mereka asik bercanda, berdendang dan merokok serta makan sirih pinang, tidak seperti harian ini nampak ketakutan karena baru pertama melewati selat raijua yang katanya memilki arus melebihi selat pukuafu. Kegetiran akhirya berlalu setelah perahu tiba di dermaga ledeunu raijua, sebuah dermaga yang layak untuk kapal perintis dan kapal penyebrangan fery. Ketika turun di dermaga sudah ada sambutan yang luar biasa disana, namanya juga penjabat bupati yang datang. Ada barisan anak sekolah, ada barisan tokoh adat adapula gadis-gadis raijua yang menawarkan senum manis dalam balutan sarung sabu yang khas.
Rombongan langsung diarahkan ke beberapa kendaraan yang ada di pelabuhan, penjabat bupati dfengan mobil camat, ada juga yang menggunakan mobil puskesmas kerliling milik puskesmas ledeke, serta beberapa kendaraan lain berupa mobil pickup serta kedaraan roda dua. Menuju desa ballu tempat kunjungan penjabat bupati memang terasa sekali suasana pedesaan. Melewati jalan perkerasan dan berdebu itulah chiri khas jalan di seluruh penjuru raijua. maklum di daerah ini belum ada ruang jalan yang disentuh aspal sejak bangsa ini merdeka, sehingga jika ada masyarakat yang mengatakan bahwa raijua belum merdeka mungkin karena mereka merasa benar-benar jauh dari sentuhan pembangunan terutama sarana jalan umum yang layak. Disepanjang jalan kebun rakyat yang terhampar luas nampak telah dipanen beberapa waktu lalu, rata rata mereka menanam sorgum ( Terae Medore) dan beberap menanam kacang hitam. Di depan rombongan sudah ada pasukan berkuda yang datang menymbut dan berjalan mendahuli rombongan. Yang unik kuda kuda yang di tunggangi ini sudah diajaakan bagimana cara berjalan atau berlari ketika menjemput tamu kehormatan. Para penunggang juga begitu lincah di atas punggung kudanya yang menari sepanjang jalan mengiringi suara giring giring ayang dikatkan pada kedua kaki kuda. Para penggang kuda berpakaian adat lengkap seperti hendak berperang, dipinggang kanan ada pedang terselip, diatas kepala ada destar kehormatan yang unik dengan kedua lengan dipasang gelang dari gading, seperti melihat film kerajaan pada jaman dulu. Ditempat tujuan sudah ditunggu oleh para gadis gadis cantik berbibir merah sirih pinang dengan tarian adat selamat datang dan sambutan adat khas raijua yang diungkapkan dalam bahasa keramat yang sukar diartikan seperti penyambutan adat natoni di pulau timor. Untuk mengantar tamu ketempat duduk sudah siap pula para penari lainnya yang akan menunjukan aksi tari tardisinya dengan membawakan taian ledo hawu, tarian perang dan tarian penghromatan bagi para pahlawan ketika pulang berperang. Penyambutan seperti ini sudah langka ditemuyi di pulau sabu, tapi di raijua masih tetap terpelihara dengan baik tanpa digusur modernisasi jaman. (bersambung).

+ + + Lebih dekat dengan masyarakat tradisi di raijua (2) + + +.

** Berpakaian ala patih, bangga jadi keturunan majapahit.**

Sebutan untuk kaum lelakinya adalah Niki Maja yang berarti laki laki dari raijua, tidak seperti di sabu yang sebutan untuk kaum pria adalah ama. Kenapa mereka dipanggil niki maja. Apakah ada hubungan dengan sebutan kerajaan majapahit ?? dimana orang raijua sampai saat ini percaya bahwa mahapatih gajah mada yang terkenal dari kerajaan majapahit adalah orang raijua, ada beberapa peninggalan yang hingga sekarang masih ada dan diyakini adalah peninggalan gajahmada, seperti dirumah adapt masih tergantung baju perang dan tobak gajah mada. Baju dari serat kayu dan daun lontar tergantung hingga sekarang di tiang utama rumah adat di raijua.

Joey rihi ga, Seba.
Berperawakan kasar berdagu lebar dengan rambut disanggul, memakai baju adapt yang telah ratusan tahun wariskan nenk moyang dengan lambing kekuatan berupa keris dan kantong yang diselipkan dipinggang sebelah kiri. Itulah sosok Deo Rai ( ketua adat) pemimpin adat tertinggi di raijua. dari cara berpakaian memang terlihat benar kalau mirip gajah mada dalam rupa rekaan para sutara dara dalam Film Film jaman dulu. Tapi orang raija sebenarnya tidak hanya berbangga memiliki hubungan erat dengan gajah mada sebab hampir di selruh pelosok di bumi raijua ada banyak benda peninggalan sejarah yang hingga saat ini masih ada, ambil saja contoh baju perang dan tombak maja ( orang raijua mengenal majapahit dengan sebutan maja,red), ada wowadu maja (batu maja,red), sumur maja dan beberap bukti emperis lainnya. Belum lagi perayaan adatnya sepertiHidu badda maja ( tangkat hewan maja,red), pehere jara maja, ( pacuan kuda ), nuni kowa maja ( menurunkan perahu maja ke laut,red) dan perayaan adapt lainnya. Hal ini cukup membuktikan bahwa orang raijua memiliki hubungan yang dekat pada zaman dulu dengan pulau raijua, pulau yang lautnya berbatasan langsung dengan negeri kanguru Australia.
Camat raijua welwm Lukas rohi yang ditemui belum lama ini mengatkan bahwa dalam kebudayaan orang raijua tidak terlepas dari budaya yang di tinggalkan kerajaan maja pahit. Apalagi masayrkat yang masih hidup dalam perkampungan adapt ( darra Rae) yang masih kekeh memagng sermua persayarkat adapt yang diwariskan para leluhur.
“ Jadi di raijua ama memang kita bisa lihat bukti yang diakui sebagai peninggalan kerajaan majapahit dan patih gajah mada, misalnya ada keris maja, ada jubah maja, ada tempat duduk maja, ada keris maja, ada rumah maja, ada perahu maja, ada sawah maja dan ada begitu banyak hal yang menurut masayarkat disini merupakan peninggalan patih gajahmada, apakah itu benar atau tidak tapi dalam budaya orang raijua itu sudah terpelihara beratus ratus tahun dan di wariskan secara turun temurun. Beta su keliling semua ama, dan bersama deo rai saya diberitahu tentang semua adat istiadat yang ada disini,” ungkap welem.
Tidak itu saja bahkan kehadiran dan kebearadaan paith gajahmada dari majapahit juga sangat kuat di buktikan dengan nama orang sabu raijua. Ditempat lain anda tak akan menemukan nama seperti di sabu raijua msalnya, raja, mojo, gaja, medo,ratu, mada. Dari nama yang ada tersebut bukan nama yang berasal dari puilau jawa atau Sumatra atau pulau lain di Indonesia nama yang berhingan dengan majapahit dan gajahmada hanya ada di sabu raijua.
Kalau dilihat dari sisi pakaian adapt yan dikenakan warna pakaian adar di raijua dan sabu berwarna dasar merah dan putih. Kalau para tua adapt meninggal mereka harus di bungkus dengan kain adapt warna putih. Begitu juga dengan pengikat kepala mereka yakni warna merah dan putih. “ jadi masayarkat disini meyakini bahwa warna merah dan putih itu berasal dari bekal yang dibawah gajahmada yakni gula berwarna merah dan kelapa berwarna putih. Salah satu makanan orang sabu jika ingin berkelana adalah Wo Peraggu ( kelapa yang dicampur gula lalu di goreng hingga kering) makanan ini tahan lama dan tidak akan basi, sehingga bisa makan berhari hari dan akan membuat orang tetap kenyang, selain itu warna putih bagi orang raijua melambangkan kekujuran dan kesuciabn sementara wara merah melambangkan mereka adalah pemberani itu yang masyarakat disini ceritakan kepada saya,” kata mantan camat fatuleu tengah welem rohi.
Terlepas dari benar tidaknya ada hunbungan anatara kerajaan majapahit dan patih gajahmada dengan masayrkat raijua, namun adapt dan budaya yang masih mereka pegang hingga saat ii patut diberi apresiasi yang tinggi oleh kita semua terutama oleh pemerhati budaya, perlu juga dikunjngi oleh mareka yang suka berwisata budaya karena yang pasti ketika anda menginjakakn kaki di tanah raijua distu anda akan menghirup uadara segar adapt dan budaya yang masih kuat mengakar dalam setiap sindi sendi kehidupan keseharian orang raijua. adapt ini pula yang tetap memproteksi mereka dari segala bentuk usaha yang bisa menluruhkan buadaya yang mereka miliki.( bersambung )

+ + + Lebih dekat dengan masyarakat tradisi di raijua (3-habis)+ + +.

** Bernafas  dalam propteksi para dewa**

Masyarakat adat disabu raijua lebih dikenal dengan sebutan jingitiu, mereka hidup dalam aturan aturan adapt yang kuat dan sangat berpengaruh dalam kehidupan keseharian mereka. Masyarakat adat jingitiu ini adalah sebutan bagi mereka yang memeluk agama resmi sehingga mereka bisa dikategorikan dalam aliran kepercayaan. Setiap orang di sabu raijua yang belum memilki sebuah agama yang resmi di sebut jingitiu dan bagi mereka yang jingitiu ada aturan aturan adat yang mengikat kehiduapan mereka. Mereka percaya bahwa Deo ( para dewa ) selalu mengatur setiap langkah kehidupan manusia. Yang mengikutinya akan diberi kemudahan dan kemakmuran yang melawan akan tertimpa bala dan bencana.
Joey Rihi Ga, Seba

Dalam kehidupan orang sabu raijua tidak pernah lepas dari upacara atau ritual adat baik itu ritual yang sederhana hingga ritual adat yang sangat sakral.  Ritual yang dilakukan dalam kehidupan orang sabu adalah sebuah lambing penghormatan bagi para dewa yang mereka yakini telah melindungi dan memilihara kehidsupan mereka selama didunia. Para dewa dalam kepercayaan jingitiu terdapat banyak dewa yang memilki tiugas masing-masing dalam menjaga dan melindungi manusia. Para dewa ada yang memberi kemakmuran ada juga yang mendatangkan bencana. Jangan heran jika anda tiba diraijua anda akan melihat begitu banyak tempat temnpat pemujaan yang disiapkan oleh masayarakat adat untuk melakukan ritual dan sesembahan bagi para dewa yang mereka tempatkan di atas atas batu atau di bawah pohon bahkan di dalam rumah adat atau tempat tinggal mereka. Masing-masing dewa memiliki namanya sendiri-sendiri sesuai dengan tugas dan perannya menjaga manusia. Ada dewa angin, dewa laut dewa hujan, dewa pertaznian, dewa kemakmuran. Dari semua dewa yang disembah orang raijua dewa yang paling tinggi kedudukannya adalah dewa dengan sebutan Deo Ama dewa ini yang yang diyakini sebagai dewa pencipta dan pemelihara kehidupan manusia serta memiliki kedudukan di atas dewa dewa yang lain. Nama para dewa ini hanya diketaui oleh para tua adat karna dianggap keramat. Percaya atu tidak jika menyebut nama salah satu dewa misalnya dewa hujan dengan kata kata keramat maka hujan pasti terjadi atau hujan bisa berhenti. 
Persembahan bagi paradewa juga dilakukan sesuai dengan kalender adat sehingga setiap ritual yang akan dilakukan harus berpedoman pada kalender adat. Begitu juga dengan setiap kegiatan masyarakat seperti menanam atau melaut dan sebagainya semaunya diatur. 
Seperti dalam acara pelantikan kepala desa ballu markus tuka belum lama ini misalnya tradisi adapt dari para ketua adat tetap dilakukan. Setelah dilantik oleh penjabat bupati sabu raijua Thobias Uly. Maka diberikan kesempatan kepada deo rai dan beni deo rai melakukan ritual khusus di depan semua hadirin yang hadir saat pelantikan kepala desa ballu. Deo rai di dampingi oleh banni deo rai membawa beberapa symbol adapt yakni desat dan pisau serta ikat pinggang. Saat memakaikan destar sang deo rai berujar dalam bahasa sakral yang bila di artikan adalah menobatkan sang kepala desa dengan nama para leluhur. Kemudian diberikan lagi sebuah pisau dengan uapacan keramat pula dari deo rai yang berarti harus berdiri sebagai pengadil dan berani mengatakan salah pada yang salah dan benar kepada yang benar,selal menggunakan kekuatan yang ada demi kemakmuran tanah leluhur dan penghuni didalamnya. Dan saat dipakaikan ikat pinggang juga disertai dengan kata kata pengutusan oleh ketua adat. Itulah kehidupan diraijua, boleh saja dilakukan upacara secara umum atau secara rsemi tapi tetap ada ruang dan kesempatan untuk dilakukan ritual secara adapt sebab walaupun sang kepala desa sudah beragama Kristen tapi masayrkat yang dipimpinnya masih banyak yang jingitiu sehingga untuk menobatkan sebagai kepala desa yang sah secara adat maka mau tidak mau harus mengikuti ritual tersebut.
Percaya atau tidak segala macam kegiatan yang berlangsung di raijua selalu dalam aturan adat yang berlaku disana, bak perawan budaya yang belum tersentuh itulah raijua pulau kecil di sebalah barat pulau sabu, penuh pesona dan mistis yang kadang sulit diterima logika tapi tetap memiliki daya tarik yang luar biasa. Tidak percaya mari berkunjung ke raijua.**


ini adalah pertama aku di blog..

aku ditengah-tengah para pemangku adat,, menjadi bagian dari mereka adalah sebuah kebanggaan.. kami sama-sama keturunan sabu tapi memilih jalan yang berbeda...