Minggu, 04 September 2011

Diantara para pemangku adat.. Aku lebih ganteng dari mereka wkwkwkwk

Sabtu, 03 September 2011

BERKELANA: Menyusuri jalan berbatu di sepanjang jalur lingkar luar Sabu Raijua
SURVEI: Bersama Bupati melakukan survei Calon Bandar Udara di Desa Eilode

"Mengikuti jejak awal perjalanan Marthen Dira Tome sebagai Bupati Sabu Raijua (1)"

Berkantor pagi hari, saban siang turun lapangan

Tulisan ini bukan untuk memuji kinerja seorang pejabat, tapi hanya sekedar berbagai pengalaman dari Kabupaten terbungsu di bumi Flobamora yakni Kabupaten Sabu Raijua. Dalam menapak hari-hari menuju sabu yang bukan lagi sekedar kampung halaman, memang perlu jeli mengikuti juragan kabupaten ini kemana saja dia pergi. Orang yang sudah pernah ke Sabu Raijua pasti berujar bahwa untuk membangun daerah ini tidak bisa hanya di komando dari belakang meja saja. Untuk mewujudkan cita-cita rakyat  maka perjalanan ke desa dan pelosok perlu dilakukan.
Joey Rihi Ga, Menia

Kalau mau bertemu bupati sabu raijua marthen dira tome, maka jangan datang disiang hari, sebab dijamin tidak akan bisa menemuinya dikantor. kegemarannya untuk jalan-jalan kelapangan atau ke desa-desa memang menjadi momok yang menakutkan bagi pejabat yang enggan turun desa apalagi berjalan kaki karena mobil tidak bisa masuk hingga pelosok. belum lagi kalau bagi pejabat yang enggan masuk kantor atau suka menggunakan waktu kerja untuk jalan-jalan karena tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu bisa saja sang bupati sudah nongol ddepan kantor. jika sudah demikian maka suasana kikuk dan salah tingkah akan kelihatan, yang biasanya sementara ngalor-ngidul tanpa kerja yang jelas akan terperangah. ini juga menjadi sok terapi bagi para PNS untuk tidak beranjak dari kantornya pada jam kerja. "untuk sekarang ini saya dengan pak wakil sudah membagi tugas dimana saya hanya masuk kantor untuk tandatangan surat atau terima tamu hingga jam 12 siang, setelah itu saya sudah ada dilapangan sampai sore, nanti tugas selanjutnya dilakukan pak wakil. kalau memang ada surat yang sangat penting dan perlu saya tandatangan maka saya harus kembali lagi sorenya ke kantor setelah dari lapangan," demikian jelas marthen dira tome kepada harian ini, ketika ditanya soal kegemarannya saban siang turun desa. walaupun setiap hari harus kelapangan bukan berarti pekerjaan utamanya dibiarkan. jika ada rapat apakah dengan para pimpinan SKPD atau dengan mitra dari lembaga DPRD misalnya maka akan dilakukan pada pagi hari, demikian juga dalam menerima tamu atau menandatangani surat-surat penting. kerinduannya untuk bertemu dan mendengar langsung serta melihat kehiduapan keseharian masyarakatnya sungguh besar sehingga walau harus makan siang hanya kelapa muda atau jagung bakar dan ubi bakar semuanya dinikmati saja oleh bupati. kadang-kadang yang menjadi sibuk adalah masyarakat itu sendiri, mereka seakan tidak rela kalu pimpinan mereka hanya makan siang makanan lokal milik rakyat apalagi sudah membuang waktu mendatangi mereka ke kebun maupun ladang mereka. kalau sudah berada di desa maka komunikasi dilakukannya dengan berbagai elemen, tak perlu harus di dalam rumah dibawah pohon rindang pun bisa dilakukan. hanya sekedar berdialog tentang apa yang ingin dilakukan pemerintah bagi mereka. pokok pembicaraan tidak jauh dari program 100 hari yang sedang dilakukan. atau program kebun rakyat mandiri pada musim kering serta hutan rakyat mandiri, serta berbagai program yang akan dilakukan pemrintah kedepan. seperti sosialisai tentang penertiban ternak, pelebaran jalan, masalah BBM, masalah listri, masalah kelautan, pertanian maupun peternakan serta potensi lain yang perlu dikelola demi kemajuan sabu raijua. kenapa ini perlu dilakukan dan disampaikan langsung sang bupati kepada masyarakat, karena ini melibatkan partisipasi masyarakat. apalagi pola dan tingakh masyarakat masih benar-benar seperti dikampung dan belum menyadari apa yang seharunya mereka lakukan sebagai masyarakat sebuah kabupaten yang otonom dan bukan lagi masyarakat desa atau kecamatan seperti selaa ini mereka lakoni. "kita tidak mungkin mengetahui apa yang terjadi di desa-desa kalau kita terlalu malas untuk turun kesana, bagaimana kita dekat dengan rakyat dan mendengar mereka secara blak-balkan kalau kita tidak merasakan bagaimana kehudpan mereka yang sebenarnya. tidak mungkin mereka mau bicara kalau kita ngomongnya dalam forum atau rapat. nah dengan cara ini saya ingin agar masyarakat ini benar-benar berpartisipasi dalam setiap aspek pembangunan,saya ingin agar setiap orang sabu harus mampu berpikir jauh melapaui apa yang orang lain pikirkan dan mampu berbuat melampaui apa yang orang lain perbuat"jelas marthen.
walaupun demikian bukan berarti bupati marthen dira tome lupa untuk melakukan loby ke pusat untuk mendapatkan dana bagi pembangunan di kabupaten sabu raijua. sebab dengan APBD yang cukup kecil pemrintah sabu raijua tentu tidak bisa berharap banyak untuk melakukan percepatan pembangunan. untuk itu maka loby-loby tetap dilakukan oleh bupati. keinginannya agar mindset orang sabu harus dirubah dalam menunjang pembangunan memang harus dilakukan dengan cara dan buadaya orang sabu raijua. salah satunya jangan pakai pendekatan kekuasaan tapi memakai pendekatan adat dan budaya masyarakat yang ada supaya apa yang ingin dilakukan pemerintah dan apa yang inginkan masyarakat bisa jalan beriringan. dia juga tidak mau menunda-nunda sebuah pekerjaan yang nisa diselsaikan, ya pasti segera diselasaikan. untuk itu maka bupati dan wakil bupati sudah menyepakati agar salah satu dari mereka harus berada di sabu raijua jika salah salah satu dari mereka bepergian keluar daerah. "para pejabat tidak boleh malas turun kebawah akrena disana ada masyarakat, jangan menunggu di kantor karena kita akan sulit mengetahui apa yang sedang terjadi dimasyarakat, saya berharap agar semua pejabat dan staf yang ada harus rajin turun ke desa untuk mengetahui apa yang terjadi ditengah masyarakat supaya ketika kita mengambil kebijakan tidak sampai melukai kpentingan masyarakat itu sendiri," ujarnya retoris. (bersambung)

Mengikuti jejak awal perjalanan Marthen Dira Tome sebagai Bupati Sabu Raijua (2-habis)

Bupati berlari sambil tersenyum, yang dibelakang terengah-engah.

Mobil masuk lumpur,dan bupati harus turun jalan kaki,atau ada yang sampai terjatuh dalam pematang sawah merupakan kisah tersendiri dalam mengikuti jejak awal perjalanan marthen dira tome sebagai bupati sabu raijua. yang lucu kalau sudah berjalan naik turun lembah bupatinya berlari sambil tersenyum tapi yang mengikutinya dari belakang terangah-engah melawan rasa lelah. apalagi kalau perut sudah minta diisi. mau berhnti malu dari bupati. lucu dan menggelikan.
Joey Rihi Ga, Menia.

Suasana dikantor Bupati Sabu Raijua pada awal minggu senin 7 Februari lalu nampak sunyi. waktu telah menunjukan pukul 12:30 siang, saatnya perut harus segera diisi, namun pintu ruangan bupati Sabu Raijua terbuka dan Bupati keluar dari ruangannya. "Ayo kita ke desa teriwu mau liat lokasi hutan rakyat mandiri untuk kecamatan sabu barat,"ujar Bupati singkat. Terpaksa dengan perut yang melilit harus segera mengkuti bupati. untungnya mobil DH I SR tidak terlalu tabu bagi penumpang lain sehingga bisa nunut dengan bupati. sampai di desa teriwu sudah pukul 14:00 siang. camat sabu barat wempy imanuel riwu dan kepala desa teriwu Jemy radja serta beberapa tokoh masyarakat dan pemilik tanah sudah menanti. bupati langsung diarahkan menuju lokasi yang akan dijadikan hutan rakyat mandiri.dongkolnya, kepala desa teriwu jemy radja seperti sengaja membawa kami berkeliling melewati jalan yang panjang. tidak tahu kalau perut lagi keroncogan. ketika melewati pematang sawah dan harus hati-hati berjalan bupati sabu raijua yang berada paling depan mengumpan rombongan yang lain untuk berlari dipematang. sontak yang lain ikut berlari. camat sabu barat yang berada persis dibelakang bupati seakan tidak mau kalah dan ketika bupati melakukan lompatan, pak camat juga ikut. tapi naas, lompatan pak camat tak selincah lompatan pak bupati. maklum saja pak bupati adalah psilat sementara pak camat bukan. "Bruuuk" pak camat terjatuh dalam sawah dari pematang yang tingginya satu meter lebih. basah kusup. sontak semua tertawa. lucu memang, tapi bisa mengobati rasa lapar yang sudah kian menggerogoti. perjalanan terus berlanjut kira-kira dua kilo jauhnya. tiba ditempat lokasi bupati lalu memberikan arahan dari masyarakat. herannya entah mereka datang dari mana tapi tiba-tiba saja mereka sudah banyak jumlahnya. setelah melakukan dialog singkat serta memperkenalkan jagawana yang akan mengurus hutan tersebut kami akhirnya kembali ke rumah kepala desa. disana ternyata kepala desa sudah siapkan makan sehingga kami bisa mengisi perut sebelum pulang. itu kisah di desa teriwu. lain lagi ketika kami melakukan perjalanan ke desa huwaga kecamatan sabu timur dan desa matei kecamatan sabu tengah pada sabtu 19 maret lalu. di desa huwaga bupati ingn melihat lokasi hutan rakyat mandiri sementara di desa matei ingin melakukan panen perdana ikan bersama masyarakat setempat. jalan menuju desa huwaga ditempuh pada siang bolong dengan kondisi jalan kampung yang sulit. belum lagi harus berjalan kaki cukup jauh untuk sampai pada lokasi hutan rakyat mandiri yang tanahnya sudah dihibahkan masyarakat. sepulang dari dewa huwaga kecamatan sabu timur kami menuju desa matei kecamatan sabu tengah. bupati mau melewati jalan baru yang dirintis masyarakat lewat program PNPM todak lagi melewati jalan aspal. samapi ditengah perjalanan kondisi jalan benr-benar memprihatinkan. mobil DH I SR masuk lumpur. bupati harus turun jalan kaki dan rombongan yang lain harus mendorong mobil keluar dari lumpur. "beginialah enaknya kalau kita turun ke desa, bisa tau kondisi sebenarnya. ini juga mengajrkan kita untuk dorong mobil,"ujar bupati sambil terkekeh.
setiba di desa matei ternyata tambah ikan milik masyarakat ada dilmabh yang curam sehingga kembali harus jalan kaki. naik turun lembah karena mobil tidak bisa turun. ada masyarakat yang menawarkan jasa ojek bagi pak bupati tapi bupati tidak mau menghukum rombongan yang lain berjalan kaki, sehingga bupati juga ikut berjalan kaki dengan rombongan yang lain. benar-benar melelahkan. bupati bahkan sampai harus duduk ketika tiba ditambak masyarakat. "capak juga," ujar bupati tersenyum. belum lima menit bupati diajak masyarakat untuk melihat tambak mereka serta memantau tiga titik mata air yang ada disekirt laoksi tersebut yang katanya tidak pernah kering walaupun musim kemarau cukup mengganas. selepas memantau mata air rombongan kembali ketmbak ikan yang sudah dikeringkan. bupati lalu didaulat untuk menangkap ikan milik masyarakat. ikannya besar dan gemuk. usai panen ikan, rupanya masyarakat sudah menyiapkan kepala muda dan ikan bakar hasil tambak mereka. kami makan dikebun. seperti lagu pesta di kobong begitulah kira-kira suasananya. sebelum kami beranjak, bupati melakukan dialog dengan masyarakat yang sudah berjubel datang ingin melihat secara dekat bupati mereka. kerinduan mereka untuk bertemu muka dengan muka cukup tersirat dari wajah-wajah mereka. lugu dan kampung. bupati membri mereka semangat dengan mencontohkan hasil panen dari tambak ikan yang ada. bupati juga menyampaikan berbagai program yang akan dilakukan dimana partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan. hari telah berajak senja dan kami harus kembali. dua tulisan ini hanya ingin menggambarkan bagaimana keseharian bupati sabu raijua. semoga menjadi hikmah untuk pejabat kita untuk tidak sekedar memrintah dari belakang meja tapi perlu turun dan mendengarkan secara langsung apa yang terjadi ditengah masyarakat.**
SUSI AIR : Pesawat Susi Air di Bandara Terdamu Seba, Sabu Raijua

Membuka isolasi ke Sabu Raijua lewat transportasi udara dan laut (1)

Bangga melihat NBA dan Susi air menghias angkasa Sabu Raijua.

Satu satunya pesawat terbang yang menghiasi angkasa pulau sabu seminggu sekali,  hanya pesawat Merpati jenis Cassa,sebelum Sabu menjadi wilayah otonom. Namun seiring Sabu-Raijua  mulai menggeliat dalam pembangunan dan aktifitas pemerintahannya, merpati tak datang lagi, dan telah berganti rupa dalam Nusantara Buana Airlines (NBA). Tidak cukup dengan pesawat bersubsidi ada lagi pesawat reguler bernama Susi Air yang merambah angkasa Sabu.walaupun harga tiketnya sedikit mencekik namun telah menolong orang Sabu dengan penerbangan tiap hari. Mau ke Sabu sekarang??? asal ada uang bisa setiap hari !!!
JOEY RIHI GA,Menia.

Bagi orang Sabu, uang adalah masalah yang kesekian jika sudah berniat ingin ke Kupang. Entah itu karena kedukaan atau karena sakit, maka berapapun harga tiket pesawatnya mereka pasti bisa membeli. Mereka sudah banyak makan asam garam soal transportasi dari dan menuju Sabu. Mulai dari perahu layar yang memakan waktu cuckup lama di lautan hingga kapal motor yang hanya menghabiskan waktu semalam dalam perjalan. Kini walalupun ada layanan kapal Fery, tapi pesawat terbang tetap menjadi kebutuhan bagi mereka yang punya kepentingan cepat atau hanya sekedar merasakan bagaimana terbang bersama burung besi bernama pesawat. Bangga adalah perasaan yang terlihat ketika hendak berangkat atau datang dengan pesawat. Dulu pesawat hanya milik para pejabat dan orang kaya di Sabu. Hanya mereka yang bisa terbang diatas udara pulau Sabu. Namun saat ini, era itu telah berlalu. Tukang iris tuak atau petani rumput lautpun, asal punya uang untuk beli tiket, maka sudah bisa merasakan naik pesawat. Ini memang suatu langkah maju dalam bidang transportasi bagi pulau seukuran Sabu. Bagaimana tidak sekarang penerbangan ke Kabupaten yang baru berusia 14 bulan ini sudah setiap hari dilayani pesawat reguler bernama Susi air. Pesawat bersubsisdi yang diberikan Pemerintah pusat yakni NBA tidak cukup mengakomodir kepentingan orang Sabu dalam hal transportasi udara.Bahkan kalau ada lagi pesawat reguler, seperti transnusa atau merpati yang melirik potensi pasar di Sabu Raijua tentu saja orang Sabu akan semakin senang. Memang kehadiaran pesawat yang sudah lancar adalah salah satu solusi dalam membuka isolasi kepulau Sabu dan sebaliknya. maklum jika cuaca tak bersahabat maka para nahkoda kapal akan merasa gemetar melintasi laut Sabu yang terkanal sebagai laut terdalam di NTT. Kalau tiket pesawat terbangnya sulit didapat pada pesawat reguler karena memang penumpangnya yang antri cukup banyak, maka saat ini sudah ada penerbangan susi air, yang memberi solusi walapun dengan tiket yang lumayan mahal. Kalau ada yang bilang bahwa tiket pesawat bersubsidi NBA hanya dimonopoli para pejabat, orang Sabu tak mau mengeluh. Sebab keluhan mereka hanya menjadi nyanyian angin yang nyaris tak terdengar. Maklum di Sabu orang berduit dan orang berpangkat masih memiliki kuasa dan dianggap lebih dari yang lain. Belum lagi, ada yang memang sengaja menunjukkan kalau mereka punya kuasa dan punya uang. Padahal Pemerintah Pusat berniat memberi subsidi karena mengingat masyarakatnya yang masih hidup dibawah garis kesejahteraan, maka siapa yang paling banyak menumpang NBA itu tandanya dia juga rakyat yang hidup di bawah garis kesejahteraan. Atau bisa juga dengan sengaja mencuri kesempatan yang seharusnya milik masyarakat.Jika ini yang terjadi lantas siapa yang pantas disalahkan? apakah Agennya atau para pejabat yang mondar-mandir menggunakan pesawat bersubsidi? keduanya sama sama punya kepentingan. agen butuh uang para pejabat butuh tiket.maka terjadilah simibosis mutualisme yang menghimpit dan mematikan rakyat kecil. "setiap ada penerbangan NBA pasti ada pejabat yang terbang kalau kita rakyat kecil maka susah mencari tiket. bahkan agen akan beralasan bahwa sudah full hingga sebulan. seakan akan pesawat itu adalah milik nenek moyangnya yang dia atur seenak perutnya tanpa berpikir bahwa pesawat bersubsisdi itu adalah untuk masyarakat kecil. kalau pejabat ya, mereka bisa pake pesawat reguler,"Ujar salah satu tokoh masyarakat di seba yang tak mau namanya dikorankan.
Bagi orang Sabu, sudah bersyukur kalau sekarang sudah ada dua penerbangan yang melayani rute Sabu tanpa berpikir ada monopoli atau permainan. mereka tetap bangga dan memberikan apresiasi kepada penerbangan yang sudah berkenan membuka tabir isolasi transportasi yang telah berkarat sekian lama. Kalau ada penerbangan lain lagi yang ingin merambah Sabu maka mari bersaing dalam keadalian dan kejujuran demi majunya Sabu Raijua.(bersambung)




BERLABUH: KM AWU saat berlabuh di pelabuhan Biu Sabu Timur


Membuka isolasi ke Sabu Raijua lewat transportasi udara dan laut (2-habis)

Saat fery diterpa gelombang, kapal Awu siap menantang badai

Tangi Loni Wila ngade lay kowa Lodo Ratu Djo, adalah sepenggal syair kesediahan dalam lagu sakral yang diharamkan untuk dinyanyikan oleh orang Sabu. Lagu tersebut berkisah tentang tangisan seorang wanita Sabu yang bersedih hati tak kala ketinggalan perahu layar yang hendak pergi ke tanah seberang. Rupanya syair dalam lagu itu tidak lagi terjadi sekarang sebab orang Sabu tidak lagi sulit untuk menyeberang kemanapun dari pulaunya yang gersang. Sudah ada ferry,ada KM Awu dan ada juga pelayaran perintis. inikah pertanda sebuah daerah mengalami kemajuan? jika demikian maka harapan leluhur bahwa Sabu adalah pulau idaman apakah akan terwujud dalam bingkai transportasi yang kian lancar????
JOEY RIHI GA,MENIA

Transportasi menuju Sabu Raijua, saat ini sudah demikian lancar, sekalipun kadang jadwal pelayaran kapal fery sering terkendala cuaca, namun seiring dengan masuknya armada pelni yakni KM Awu maka badai yang menjadi halangan bisa dilewati.dengan daya angkut yang cukup memadai maka jangan heran kalau penumpang Sabu begitu berjubel dengan KM Awu ketika ferry tidak beroperasi.Herannya setiap layanan transportasi mulai dari pesawat terbang hingga kapal laut penumpang sabu selalu full.
Bagi penumpang yang membawa barang bawaan yang cukup banyak atau membawa kendaran roda dua, atau roda empat maka mereka lebih memilih naik kapal penyeberangan ferry dibanding naik kapal Awu. Walau demikian, bukan tidak ada penumpang yang juga menggunakan KM awu.Dulu sebelum ada Awu maka sekalipun hujan badai datang, kalau ferry tetap beroperasi maka orang Sabu tetap akan berangkat. Tapi sekarang mereka sedikit lebih punya alternatif, karena selain ferry sudah ada Awu dan pesawat setiap hari. Memang layanan rute Sabu sangat berpengaruh dengan kondisi cuaca sehingga jika angin kencang atau gelombang tinggi maka tentu rute sabu akan dibatalkan apalagi dengan kondisi sekarang yang mana cuacanya tidak menentu.Niat orang Sabu Raijua untuk mandiri dan terpisah dari Kabupaten Kupang, adalah untuk menikmati layanan yang seharusnya mereka rasakan, sebab dengan menjadi Kabupaten otonom tentu perhatian dari Pemerintah dalam berbagai aspek akan mengarah kesana. Coba saja Sabu masih sebatas kecamatan yang berada dibawah kekuasaan Kabupaten Kupang, mana mungkin ada ada dua penerbangan sekaligus yang masuk ke pulau yang terpencil itu. Bahkan pesawat sudah ada yang terbang tiap hari. Demikian juga dengan pelayaran mana mungkin ada kapal bertonase besar seperti Awu yang akan menyinggahinya. Bahkan untuk melihat dari dekat Sabu Raijua maka menteri perhubungan Fredy Numberi, sempat melakukan kunjungan singkat bersama Gubernur NTT beberapa lalu. Untuk memajukan sebuah wilayah maka hal yang cukup berpengaruh adalah layanan transportasi yang lancar dan memadai sehingga memudahkan akses bagi orang yang ingin berusaha atau mananam investasi di sabu raijua. bagi orang yang sudah terbiasa berlayar dengan kapal ferry milik ASDP gelombang dan angin kencang mungkin sudah bersahabat tapi bagi yang tidak terbiasa tentu itu sebuah perjalanan yang cukup melelahkan dan membosankan. Sebab selain karena kapalnya tidak terlalu kondusif untuk melayari lautan luas kalau tidak disebut samudra penumpang didalamnya cukup berjubel sehingga tidak memberi rasa nyaman bagi penumpangnya. Namun ditengah pergumulan tersebut Pemerintah Pusat lewat Pemerintah Provinsi dan Pemkab Sabu Raijua akhirnya berhasil membawa sebuah kapal besar untuk menyinggahi pelabuhan biu di Kecamatan sabu Timur. Tinggal sekarang bagaimana masyarakat mempergunakan layanan transportasi tersebut untuk membangun pulau yang dicintainya. Jangan sampai dengan transportasi yang demikian mudah dan lancar malah membuat orang-orang Sabu lebih mudah untuk meninggalkan pulaunya untuk merantau ke negeri orang. Sebab orang Sabu memang dikenal sebagai suku pengembara sejak jaman dulu dan ketika mereka menemukan tempat yang lebih baik maka dengan cepat melupakan pulaunya. Nah kalau itu yang terjadi jangan heran jika nanti yang membangun pulau Sabu ternyata adalah orang dari luar dan bukan anak sukunya sendiri hanya karena mereka terlampau dimanjakan oleh transportasi yang kian mudah. Semoga ini tidak terjadi, sebab kalau ini sampai kejadian maka tentu akan ada lagi syair lagu kesedihan dalam bentuk lain yang meminta orang Sabu untuk kembali membangun pulaunya seperti syair lagu, bole ballo rai di, rai due nga donahu(jangan pernah melupakan bumi kita bumi lontar dan nira). semoga!!!(habis)








+Keterbatasan para siswa dan masyarakat pulau terluar dalam mengakses informasi+

*Membuka jendela dunia dari pulau raijua,mungkinkah ?*

Internet atau dunia maya yang saat ini sudah menjadi kebutuhan setiap orang, mulai dari siswa hingga orang kerja. Namun kisah tentang internet, hanyalah dongeng belaka bagi mereka yang ditakdirkan hidup dipulau terluar diwilayah NKRI.  Jauh dari sarana komunikasi membuat mereka hidup seperti katak dalam tempurung. Begitu juga dengan kondisi di Pulau Raijua Kabupaten Sabu Raijua. Mampukah mereka membuka jendela dunia dan meneropong bebas lewat dunia maya???
Joey Rihi Ga,Menia

Entah harus menyebutnya pulau terluar  atau pulau terdepan dari indonesia, tapi memang kenyataannya mereka berhadapan langsung dengan samudra Hindia, tidak ada pulau lagi didepannya. Begitu jauhnya mereka dari sumbu pemerintahan serta Ibukota membuat masyarakat dipulau Raijua seakan tidak pernah berubah dari waktu ke waktu. Mulai dari perubahan pembangunan secara fisik maupun pembangunan sumberdaya manusia yang ada disana. Mereka akhirnya harus hidup dan tetap hidup hanya untuk menghabiskan sisa waktu yang diberi yang kuasa. Ada hal yang menarik yang dilontarkan oleh Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome, saat mengunjungi pulau raijua pada pertengahan april silam. Dia mengatakan bahwa orang Raijua tidak boleh ketinggalan dengan orang yang ada di tempat lain dalam hal informasi walaupun sebenarnya semua serba terbatas.
Pemerintah katanya, akan membuka pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) di Raijua dimana ditempat tersebut akan disediakan berbagai macam buku yang bermanfaat baik bagi para siswa, guru, serta masyarakat. Yang menggelitik adalah di PKBM tersebut juga akan disiapkan beberapa unit komputer yang dilengkapi dengan modem internet sehingga masyarakat bisa mengakses informasi lewat internet. "Dulu kita sudah rintis bagaimana masyarakat mengenal dan mengoperasikan komputer di raijua bersama Pak Rafael Huru Ludji. Nah untuk selanjutnya kita akan bangun PKBM yang akan dilengkapi dengan komputer untuk bisa akses internet. Saya ingin dari pulau yang kecil ini kita membuka jendela dunia. dari sini kita akan meneropong dunia lewat internet,"Tegas Bupati waktu itu. Sebuah ide yang luar biasa, karena bagi masyarakat disana terutama para siswa atau guru dan PNS, mereka hanya tahu kalau internet itu hanya bisa mereka temukan di kota, tidak dikampung atau pelosok seperti Raijua. Tapi dengan lajunya perkembangan teknologi saat ini bisa mematahkan pemikiran mereka bahwa internet tidak hanya ada di kota, tapi bisa dimana saja sejauh ada sinyal dari perusahaan telekomunikasi selular. memang di Raijua mereka sudah bisa SMS atau telpon lewat jasa perusahaan telekomunikasi selular, namun mereka hanya bisa mencuri sinyal dari tower atau BTS yang ada dipulau Sabu. Di Raijua sendiri belum ada BTS. Lalu bagaimana dipulau Raijua bisa mengakses internet, itu bukan hal yang gampang. Karena pertama harus ada lebih dulu ada perusahaan telekomunikasi selular yang mendirikan tower atau BTSnya disana. Sehingga dengan kekuatan sinyal yang bagus maka akses internet juga akan semakin baik. Nah tentu ini juga menjadi tantangan bagi perusahaan telekomunikasi selular dalam pelayanannya menjangkau seluruh wilayah indonesia lewat jaringan komukasi selular sesuai dengan keinginan mereka. Untuk diketahui saja bahwa dipulau Sabu ada dua perusahaan telekomunikasi selular yang sudah mendirikan towernya diempat kecamatan, tapi untuk mengakses internet sulitnya setengah mati. Entah karena apa, masyarakat tidak tahu. Hanya satu kecamatan yakni Kecamatan Sabu timur yang akses internetnya berjalan lancar, kecamatan lainnya "tulalit" kalau mau akses internet, ini PR bagi perusahaan telekomunikasi selular di Sabu. Soal pengguna selular jangan tanya jumlahnya, sudah ribuan yang punya HP. lalu apakah keinginan masyarakat di Raijua serta keinginan Bupati Sabu Raijua Marthen Dira Tome untuk membuka jendela dunia dari Raijua bisa dilakukan??  Inilah pertanyaan besar yang harus dijawab.  Bagaimana Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua membangun bekerjasama dengan pihak penyedia layanan komunikasi selular agar bisa merambah ke pulau Raijua pulau yang menjadi tempat terdamparnya imigran asing yang hendak ke Australia. Dalam hal ini tentu saja bukan hanya di Raijua yang perlu ditingkatkan layanan komukasinya, tapi juga dibeberapa kecamatan dipulau Sabu, karena tidak dapat dipungkiri bahwa dunia internet atau dunia maya telah menghipnotis masyarakat hingga ke pelosok-pelosok. Buktinya lewat jejaring sosial seumpama Facebook atau Yahoo Mesangger, orang dari kampung sudah bisa berinteraksi dengan orang diluar wilayah mereka bahkan keluar negeri hanya dengan bermodal HP atau modem internet. Nah kalau ini sudah bisa terjadi di Kabupaten Sabu Raijua maka mereka bukan lagi masyarakat yang tertinggal dalam hal informasi. Dengan demikian, maka mimpi dan harapan mereka, untuk sejajar dengan daerah lain dalam hal mengakses informasi secara cepat bisa terwujud. kita akhirnya kembali bertanya, membuka jendela dunia dari pulau raijua mungkinkah??.


 SUNSET: salah satu sudut pantai pada saat senja di Pulau Raijua

Mengenal potensi wisata Sabu Raijua setelah menjadi Kabupaten mandiri.(1)

Berselancar ditanjung Raijua,menikmati sunset dari pantai Wuihebo.

Keindahan dan pesona sabu raijua sebagai pulau kecil yang jauh dari pandangan para wisatawan dan para penikmat budaya dan wisata membuat daerah ini tak tersohor seperti wilayah lain di bumi flobamora. padahal ada segudang potensi yang bisa mendulang rupiah dari bidang pariwisata. jarak yang jauh dan minimnya sarana pariwisata menjadi kendala selama ini. tapi selepas menjadi kabupaten otonom bagaimana geliat wisata di pulau penuh mistis ini???
Joey Rihi Ga,Menia

Yang dikenal oleh orang lain tentang Sabu dan Raijua adalah dua pulau kecil yang terletak ditengah pulau timor sumba dan rote.mereka tidak tahu, pulau tersebut memiliki pesona yang menawan hati, mulai dari tariannya yang indah dan sarat makna, budaya dan adat istiadatnya serta situs sejarahnya yang bernilai jual tinggi, alamnya yang indah serta kekayaan fauna dalam birunya laut sabu. bagi wisatawan yang seang berselancar jangan bilang anda peselancar hebat kalau belum pernah menikmati gulungan ombak yang menawan dibagaian selatan pulau raijua. ada sepuluh hingga limabelas kali gelombang yang berikutan disana yang akan membuat anda gila dalam berselancar. dibeberapa titik di pulau sabu juga ada ombak yang cukup baik untuk berselancar. katakan saja di wuihebo sabu barat, di gella nalalu mehara serta lie geta sabu timur. bagi beberapa bule yang pernah berselancar disana mereka selalu memberikan kesan puas dan ingin kembali lagi. namun bagi mereka kesulitan transportasi dan akomodasi wisata yang layak menjadi semacam hantu yang menakutkan mereka untuk kembali mencobanya lagi. itu baru potensi berselancar. anda harus tahu bahwa di sabu raijua memiliki kalender adat yang penuh dengan kegaitan adat budaya yang padat. tentu sambil berselancar bisa menikmati kegaiatan adat di sabu raijua. di raijua misalnya. pulau kecil yang berselat cukup menggetarkan bagi nelayan ini akan menjamin dahaga para wisatawan akan berbagai kegaiatan adat seperti Hidu badda maja ( tangkat hewan maja,red), pehere jara maja, ( pacuan kuda ), nuni kowa maja ( menurunkan perahu maja ke laut,red) dan perayaan adat lainnya,yang membuat bulu kuduk berdiri. pulau yang katanya sebagai tempat asal mahapatih gajah mada ini memang masih asli dalam berbagai aspek kehidupannya. semua kegaiatan dan alur kehidupan masih berjalan dalam aturan dan ritual adat sehingga kehidupan buadayanya amat mempesona bagi para wisatawan. kalau berselancar di gella nalalu anda akan disuguhi oleh pesona alam yang indah serta peninggalan dan situs sejarah yang juga mempesona. ada perahu leluhur yang telah membatu dengan tiang layar yang telah patah. di lie geta juga demikian. alam yang indah dengan hamparan pasir putih yang bersih dengqn cadar yang diukir alam dengan indahnya. bisa melihat penyu bertelur dan bisa menikmati barisan ikan paus kala mereka bermigrasi melewati laut sabu. itu suguhan yang tidak menarik bagi orang sabu karena memang mereka sudah hisup sehari-hari dengan keadaan tersebut. tapi tentu bukan demikian bagi penikmat wisata. moment indah dan alam indah belum tentu mereka temui ama seperti di sabu raijua. kalau anda sudah lelah jangan lewatkan ndahnya sunset dari berbagai sudut psantai yang mengitari pulau sabu. tenggelamnya matahari disana terasa begitu lain dengan lukisan-lukisan langit yang mempesona. tak kalah dari bali. kalau kehadiaran sunrise ditemani suara kicau burung nan merdu, maka kepergian sunset atau kala matahari berjalan ke peraduannya akan diselingi suara burung hantu. indah tapi penuh misteri. cita-cita bupati sabu raijua marthen dira tome menjadkan sabu sebagai kota para dewa tentu terlahir dari pengalamannya dinegeri orang lalu kemudian membandingkannya dengan pulaunya sendiri. dan kenyataannya seperti itu. kota para dewa. kehiduapan orang sabu asli yang manganut kepercayaan jingitiu meyakini bahwa segala aspek lehidupan orang sabu dilindungi oleh para dewa sesuai perannya masing-masing.ini baru beberapa hal soal keindahan alam dan potensi wisata yang dihidangkan bagi anda. lalu bagimana anda menyatu dalam berbagai tarian adat serta menyelimuti diri dengan berbagai kait adat yang bersimbol khidupan orang sabu?? mari berwisata ke sabu raijua (bersambung)

SAMBUT TAMU: beginilah para pemangku adat menyambut tamu

Mengenal potensi wisata Sabu Raijua setelah menjadi Kabupaten mandiri.(2)

Menyatu dalam tarian sakral berselimutkan kain para dewa.

tarian boleh sama namanya pedo,a tapi hantakan kaki dan syair serta lagunya bisa menunjukan dari sabu raijua mana mereka berasal. dari barat, timur, liae,mehara atau raijua. begitu juga dengan kain dan selimut yang menyatu di tubuhnya. bisa diketahui darimana dia berasal. semuanya bisa dikenali di sabu raijua. dalam menjalani kehidupannya, mereka yakin berada dalam proteksi para dewa.
Joey Rihi Ga,Menia.

Dalam kehidupan orang sabu raijua tidak pernah lepas dari upacara atau ritual adat baik itu ritual yang sederhana hingga ritual adat yang sangat sakral.  Ritual yang dilakukan dalam kehidupan orang sabu adalah sebuah lambing penghormatan bagi para dewa yang mereka yakini telah melindungi dan memilihara kehidsupan mereka selama didunia. Para dewa dalam kepercayaan jingitiu terdapat banyak dewa yang memilki tiugas masing-masing dalam menjaga dan melindungi manusia. Para dewa ada yang memberi kemakmuran ada juga yang mendatangkan bencana. Jangan heran jika anda tiba diraijua anda akan melihat begitu banyak tempat temnpat pemujaan yang disiapkan oleh masayarakat adat untuk melakukan ritual dan sesembahan bagi para dewa yang mereka tempatkan di atas atas batu atau di bawah pohon bahkan di dalam rumah adat atau tempat tinggal mereka. Masing-masing dewa memiliki namanya sendiri-sendiri sesuai dengan tugas dan perannya menjaga manusia. Ada dewa angin, dewa laut dewa hujan, dewa pertaznian, dewa kemakmuran. Dari semua dewa yang disembah orang raijua dewa yang paling tinggi kedudukannya adalah dewa dengan sebutan Deo Ama dewa ini yang yang diyakini sebagai dewa pencipta dan pemelihara kehidupan manusia serta memiliki kedudukan di atas dewa dewa yang lain. Nama para dewa ini hanya diketaui oleh para tua adat karna dianggap keramat. Percaya atu tidak jika menyebut nama salah satu dewa misalnya dewa hujan dengan kata kata keramat maka hujan pasti terjadi atau hujan bisa berhenti. 
Persembahan bagi paradewa juga dilakukan sesuai dengan kalender adat sehingga setiap ritual yang akan dilakukan harus berpedoman pada kalender adat. Begitu juga dengan setiap kegiatan masyarakat seperti menanam atau melaut dan sebagainya semaunya diatur. dari situlah maka muncullah tarian-tarian adat yang sakral seperti ledo hawu yang hanya ditarikan pada saat tao leo atau penyucian arwah serta penyambutan para pahlawan. tarian pedoa yang melambangkan persatuan dan jiwa gotong-royong. syair lagu atau hoda, tangisan pilu dalam tuturan kata untuk silsilah kala orang meninggal.begitu pula dengan kekyaan dan keunikan kain tenunan di sabu raijua. setiap motif dalam kain adat memiliki kisah sendiri-sendiri. tidak semua orang bisa memakai motif tertentu pada upacara sakral karena kain yang dikenakannya mencerminkan strata serta darimana dia berasal. mereka juga percaya bahwa kain yang dikenakannya akan menjaga keselamatan mereka, membawa keberuntunan serta menghidari mereka dari bencana yang mengncam. tidak heran kalau banyak penleiti dari luar negeri datang secara khusus untuk meneliti tenunan sabu, mereka bahkan telah membawa kain tenunan sabu mendunia. kini dalam dunia moderen dengan tuntutan ekonomi maka kain sabu harus bisa berdiri tegak pada keasliannya sambil tidak kaku dan bisa mencair dalam modifikasi yang bernilai jual tinggi. hal ini memang telah dirasakan bupati sabu raijua sehingga dirinya mengingatkan bahwa saat ini tengah maraknya jiplak menjiplak berbagai motif daerah oleh orang luar. hal ini tentu sebuah pelanggaran atau dikategorikan sebagai kejahatan dalam dunia budaya dan dunia ekonomi yang akan merugikan masyarakat dan daerah. "untuk itu maka kedepan mari kita bersama sama berpikir agar hak cipta motif daerah sabu apakah hak ekonomi atau hak moral harus dilindungi dan dikemas dengan aturan yang lebih nyaman,"ujar Marthen kala melantik ketua dekranasda dan ketua PKK sabu raijua. selain budaya dan adat istiadat yang masih kental keaslannya serta indahnya alam yang mempesona ada banyak potensi lain yang bisa dikemas bagi kehidupan pariwisata di sabu raijua. Percaya atau tidak, segala macam kegiatan yang berlangsung di sabu raijua selalu dalam aturan adat yang berlaku. bak perawan wisata yang belum tersentuh itulah sabu raijua raijua kabupaten kecil ditengah sumba, timor dan rote. penuh pesona dan mistis yang kadang sulit diterima logika tapi tetap memiliki daya tarik yang luar biasa. Tidak percaya?? mari berwisata ke sabu raijua.**
 TRADISIONAL : Para petani di Sabu masih membajak sawah menggunakan tenaga kerbau,, jauh dari sentuhan teknologi.

Mengintip kehidupan petani menghadapi anomali cuaca di Sabu Raijua.(1)

Mayang lontar menjadi kering, garampun ikut mencair

Tahun 2009 dan 2010 menjadi tahun yang cukup sulit bagi warga Sabu. Entah itu sebuah ujian atau memang kehendak alam. Orang Sabu tak mampu memberikan jawaban pasti. Yang jelas musim tanam kemarin telah mengantar mereka ke pintu gagal panen bahkan gagal tanam, dan tahun ini kembali anomai atau penyimpangan cuaca membuat mereka semakin terpuruk dalam penderitaan. Kenapa? karena musim iris tuak tiba-tiba turun hujan. Dampaknya, mayang lontar menjadi kering dan garam masyarakat turut mencair.....
JOEY RIHI GA,Menia

Berawal dari bocornya pipa minyak Montara milik Australia merupakan awal kisah sedih bagi masyarakat Sabu Raijua. Mereka harus mengurut dada lantaran budidaya rumput laut yang telah membawa mereka ke alam rupiah yang melimpah ternyata harus lebur dan hancur dalam sekejab. Tangan mereka belum sempat terpuaskan memegang lembaran rupiah hasil rumput laut yang menjalar di setiap pesisir pantai sabu raijua. Kisah itu berakhir dalam penantian panjang. Namun ketika musim hujan mulai memberi tanda kehidupan di bumi, dan saat mereka telah bersiap dengan lahan yang telah dicangkul dengan sebuah harapan ternyata itupun menjadi mimpi buruk. sebab air dari langit yang disebut hujan itu terlampau sedikit turun di bumi orang sabu raijua. dampaknya tentu semua sudah tahu. para petani mengalami gagal panen bahkan gagal tanam. hidup mereka seakan berakhir disitu bila bantuan beras miskin (Raskin) tak segera menyapa kehidupan bagi orang sabu. ya.. memang benar mereka tiba-tiba menjadi sangat miskin oleh alam yang mulai menampakkan perubahan. namun suku yang dikenal ulet dan memiliki daya tarung yang luar biasa ini tidak mau menyerah. mereka masih memiliki pohon tuak.pohon ajaib dan pohon kehidupan bagi orang sabu. ajaib karena pohon tuak akan mengeluarkan mayang-mayangnya untuk diiris ketika musim panas telah tiba antara bulan april hingga bulan november. namun lagi-lagi kesusahan belum puas menyiksa rakyat dipulau nan gersang itu. karena musim hujan yang datang terlambat dan tak tentu ternyata telah memberi dampak yang luar biasa pada siklus produksi pohon lontar. jika dulu mayang lontar telah keluar pada bulan mei maka tahun ini datang terlambat hingga bulan juli agustus. apesnya saat orang sabu mulai memperbaiki toba due (tempat injakan pada pohon lontar),memakai lengkap peralatan iris dengan ikat pinggang lebar dari pelepah lontar dengan pisau iris di pingggang  serta mereka sudah bersiap dengan periuk untuk memasak gula tiba-tiba musum berubah. pada bulan yang tidak seharusnya datang hujan bumi raiwau harus basah oleh air hujan yang tak diharap. lantas apa masalahnya? bagi pohon lontar jika sudah diiris maka tidak boleh terkena hujan sebab bila itu terjadi maka mayang yang diris akan menjadi kering dan ogah mengeluarkan air nira buat orang sabu. maka Demikian habislah kehidupan mereka. pohon lontar yang mnghasilkan nira untuk dimasak menjadi gula harus kering dan kalaupun masih ada pohon tuak yang bisa diiris maka sudah pasti produksi niranya akan berkurang. musim panas yang penuh perjuangan. lalu apakah hanya pohon tuak yang terkena dampak dari penyimpangan atau anomali cuaca? tidak! orang sabu yang biasanya m3engolah garam lewat pengeringan sinar mataharipun ikut terkena dampak. garam mereka harus rusak, lantaran terkena hujan maka mencair dan meleleh. belum cukup juga disitu para petani tembakau atau petani sayur mayur dimusim kering harus berjibaku dengan ulat daun yang datang karena musim hujan yang datang itu. sehingga orang mulai bertanya hujan itu berkat atau malapetaka? berkat kalau datang pada saat yang tepat dan pada musimnya namun akan berubah menjadi petaka jika datang tidak pada waktu dan musimnya. lantas siapa yang mau disalahkan? apakah alam ??? orang sabu tidak bisa menjawab, mulut mereka terkatup. hanya doa yang mereka panjatkan agar kesulitan dan penderitaan yang bertubi-tubi datang bisa menguatkan mereka. tidak cuma itu mereka juga berharap pemerintah tidak berpangku tangan dikala mereka bersusah sedih lalu ada yang tertawa dalam kegirangan tega menghambur-hamburkan uang mereka yang di sebut rakyat sabu raijua .(bersambung)

Mengintip kehidupan petani menghadapi anomali cuaca di sabu Raijua.(2)

Jangan biarkan damai itu pergi...

Banyak yang tak suka berdiam dinegeri yang terpencil itu. disana hanya ada gersang yang menemani disepanjang tahun kehidupan pulau terluar di wilayah NKRI ini. tapi disana ada damai yang senantiasa bersemi dan bersenandung sepanjang hayat rakyatnya.  dalam sejarah yang pernah dilewati belum pernah orang sabu berteriak lapar yang benar benar lapar. kalau kekurangan mungkin pernah. tapi kini kedamaian itu akankah segera berlalu jika wakil Tuhan di Bumi ini yang disebut pemerintah tidak memperhatikan rakyatnya. dikala sabu telah menjadi otonom apakah ini ujian bagi pemerintahnya dalam mengatisipasi berbagai kerawanan di kabupaten terbungsu yang baru telahir itu? Tuhan.. jangan biarkan damai itu pergi!!!
JOEY RIHI GA,Menia.

Salah satu pemicu terjadinya kerawanan sosial dalam masyarakat adalah faktor kesenjangan ekonomi dan kehidupan yang serba sulit. banyak orang yang stres dan pusing tujuh keliling jika didapur tidak lagi asap mengepul dan perut melilit tak tersisi. maka pelariannya akan mengarah kepada hal hal yang negatif. nah, apakah kondisi ini akan terjadi di sabu raijua saat mereka telah membuka gerbang pemilukada? semua tentu tak berharap demikian. toh sekalipun sulit orang sabu masih bisa terbang kemanpun dengan pesawat yang telah melayni pulaunya setiap hari. mereka masih bisa berlayar dengan kapal ferry dan menimati enaknya berkelana dengan kapal raksasa bernama awu. itu semua usaha pemerintah dan semua elemn yang ada. namun dibalik keberhasilan itu apakah pemerintah kabupaten sabu raijua juga tanggap menghadapi anomali cuaca yang melanda seluruh wilayah bumi fobamora termasuk sabu di dalamnya? sebagai penjabat bupati yang diberi tanggunjawab pada masa transisi di sabu raijua Thobias Uly telah menyrukan bahkan memberi intruski kepada semua SKPD yang ada di sabu raijua untuk tanggap terhadap kenyataan yang sekarang terjadi. seruan itu tentu saja diharapkan tidak saja menjadi naynyian penghibur duka dalam sedih atau sekedar nyanyian sumbang yang akan segera lenyap oleh kencangnya angin timur yang belum berhenti berhembus. dalam seruannya sebagai penjabat bupati tentu saja Thobias uly mengharapkan agar SKPD yang ada dibawah komandonya mampu menerjemahkan setiap program yang akan dilakukan sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini. misalnya saja bagaimana dinas pertanian,peternakan, kelautan dan kehutanan sabu raijua kembali memperhatikan para petani rumput laut dengan bantuan yang ada karena saat ini badai pencemaran muali berangsur hilang dan rumput laut kembali menjalar di setiap pesisir laut sabu raijua. sebagai dinas yang memiliki peran penting tentu harus benar benar memperhatiakn kehidupan petaninya yang telah sekarat akibat berbagai hantaman badai gagal panen, pencemaran laut hingga anomali cuaca yang berpengaruh pada produksi niar yang berkurang serta tanaman petani hulkukultura yang diserang ulat daun. ataupun garam masyarakat yang harus mencair akibat hujan yang tak diharap. sudah saatnya pula ketika pemerintah telah berthakta di bumi rai hawu harus memikirkan potensi kelautan yang begitu luar mengelilingi pulau nan kecil ini. tidak saja sebatas pada rumput laut tapi bagimana malkukan terobosan dengan alat penagkap ikan yang moderen yang tak terjangkau oleh ekonomi masyarakatnya. biarlah dengan dana yang tidak tebal bisa dipergunakan secara maksimal untuk kesejahteraan masyarakatnya. sehingga pola kehidupan amphibi bisa diterapkan dalam menghadapi musim yang tak menentu ini.
demikian juga dengan SKPD lainnya bagaimana dinas perindustian mengajarkan masyarat untuk mengembangkan industi kecil dan menengah sebagai alternatif penopang kehidupan ekonomi. seperti mengoptimalkan potensi lokal yang menjadi identitas sebuah wilayah seperti menenun kain adat, membuat gerbah atau aksesoris lainnya dari tanah liat atau menganyam tikatr pandan yang layak dijual ke kular pulau sabu dan kini mulai punah sebagai pemicu semangat masyarakat dalam berkarya dan bekerja memnuhi hidupnya.
ini hanyalah beberapa contoh bagimana pemerintah berperan mengusir segala penderitaan yang dialami masyarakat sabu raijua yang diakibatkan oleh berbagai faktor. jika ini benar benar dilakukan dengan hati maka mustahil damai yang bersemayam di bumi sabu raijua akan pergi meninggalkan rakyatnya. ini tentu tidak gampang harus bergandengan tangan semua elemen yang ada baik yang tinggal dan menetap di sabu maupun yang ada diluar sabu. bukan hanya pemerintah atau dewan tapi semua pihak yang merasa bertanggungjawab untuk membawa sabu menjadi daerah yang sejajar dengan daerah lain di indonesia. ini harapan dan doa sehingga damai itu tidak tidak pernah pergi tapi tetap bersemayam dalam semangat orang sabu yakni mira kaddi hari do memude para lai ( senasib sepenanggungan, berat sama dipikul ringan sama dijinjing) semoga!!!(habis)