Sabtu, 03 September 2011

+ + + Lebih dekat dengan masyarakat tradisi di raijua (1)+ + +.

**Menikmati aroma eksotis adat dipulau  raijua.**

Nama Raijua sontak terkenal setelah disahkan menjadi sebuah kabupaten hasil pemekran dari kabupaten kupang yang disahkan para dewan yang terhormat di senayan lewat undang undang otonomi daerah no 52 tahun 2008 silam. Ya.. kabupaten sabu raijua, menyebut kabupaten bungsu di NTT ini serasa kurang lengkap bila tak menyebutkan raijua, keneapa harus ada raijua, karena walaupun dua pulau ini terpisah oleh selat namun dalam mitos dan sejarah orang sabu dan raijua, bahwa keberadaan pulau sabu raijua karma di topang dua tiang kokoh yakni bukit Ketita di raijua dan bukit merabbu di sabu. Anda ingin tahu lebih dalam soal raijua, kami ajak anda berpetualang di negeri yang dikatakan tempat mahapatih gajah mada berada menyatukan nusantara.
                                      
Joey Rihi Ga, Seba.
Jam menunjukan pukul 6 pagi ketika harian ini hendak menyebrang ke pulau raijua, pulau yang terletak di bagian barat pulau sabu. Untuk sampai disana harus menumpang perahu layar atau perahu motor yang sudah disiapkan para nelayan di dermaga seba sabu barat.
Fajar pagi adalah kapal kayu meilik nelayan dari sulawesi yang membawa timex menuju raijua belum lama ini bersama dengan rombongan penjabat bupati sabu raijua Thobias Uly. Keramahan penumpang akan anda rasakan ketika dalam pelayaran dengan jarak tempuh kurang lebih satu jam perjalan. “ ini kita harus berangkat pagi ama, karna nanti kalau su siang arus su deras jadi kalau pagi begini masih aman,” kata miha ratu pria asal desa ballu yang duduk disamping saya. Setelah kurang lebih 30 menit berlayar, arus selat raijua mulai terasa, kapal mulai sedikit oleng dan terasa bergetar oleh arus yang dilalui kapal. Tapi suasana itu seperti tidak terasa oleh para penumpang, mereka asik bercanda, berdendang dan merokok serta makan sirih pinang, tidak seperti harian ini nampak ketakutan karena baru pertama melewati selat raijua yang katanya memilki arus melebihi selat pukuafu. Kegetiran akhirya berlalu setelah perahu tiba di dermaga ledeunu raijua, sebuah dermaga yang layak untuk kapal perintis dan kapal penyebrangan fery. Ketika turun di dermaga sudah ada sambutan yang luar biasa disana, namanya juga penjabat bupati yang datang. Ada barisan anak sekolah, ada barisan tokoh adat adapula gadis-gadis raijua yang menawarkan senum manis dalam balutan sarung sabu yang khas.
Rombongan langsung diarahkan ke beberapa kendaraan yang ada di pelabuhan, penjabat bupati dfengan mobil camat, ada juga yang menggunakan mobil puskesmas kerliling milik puskesmas ledeke, serta beberapa kendaraan lain berupa mobil pickup serta kedaraan roda dua. Menuju desa ballu tempat kunjungan penjabat bupati memang terasa sekali suasana pedesaan. Melewati jalan perkerasan dan berdebu itulah chiri khas jalan di seluruh penjuru raijua. maklum di daerah ini belum ada ruang jalan yang disentuh aspal sejak bangsa ini merdeka, sehingga jika ada masyarakat yang mengatakan bahwa raijua belum merdeka mungkin karena mereka merasa benar-benar jauh dari sentuhan pembangunan terutama sarana jalan umum yang layak. Disepanjang jalan kebun rakyat yang terhampar luas nampak telah dipanen beberapa waktu lalu, rata rata mereka menanam sorgum ( Terae Medore) dan beberap menanam kacang hitam. Di depan rombongan sudah ada pasukan berkuda yang datang menymbut dan berjalan mendahuli rombongan. Yang unik kuda kuda yang di tunggangi ini sudah diajaakan bagimana cara berjalan atau berlari ketika menjemput tamu kehormatan. Para penunggang juga begitu lincah di atas punggung kudanya yang menari sepanjang jalan mengiringi suara giring giring ayang dikatkan pada kedua kaki kuda. Para penggang kuda berpakaian adat lengkap seperti hendak berperang, dipinggang kanan ada pedang terselip, diatas kepala ada destar kehormatan yang unik dengan kedua lengan dipasang gelang dari gading, seperti melihat film kerajaan pada jaman dulu. Ditempat tujuan sudah ditunggu oleh para gadis gadis cantik berbibir merah sirih pinang dengan tarian adat selamat datang dan sambutan adat khas raijua yang diungkapkan dalam bahasa keramat yang sukar diartikan seperti penyambutan adat natoni di pulau timor. Untuk mengantar tamu ketempat duduk sudah siap pula para penari lainnya yang akan menunjukan aksi tari tardisinya dengan membawakan taian ledo hawu, tarian perang dan tarian penghromatan bagi para pahlawan ketika pulang berperang. Penyambutan seperti ini sudah langka ditemuyi di pulau sabu, tapi di raijua masih tetap terpelihara dengan baik tanpa digusur modernisasi jaman. (bersambung).

+ + + Lebih dekat dengan masyarakat tradisi di raijua (2) + + +.

** Berpakaian ala patih, bangga jadi keturunan majapahit.**

Sebutan untuk kaum lelakinya adalah Niki Maja yang berarti laki laki dari raijua, tidak seperti di sabu yang sebutan untuk kaum pria adalah ama. Kenapa mereka dipanggil niki maja. Apakah ada hubungan dengan sebutan kerajaan majapahit ?? dimana orang raijua sampai saat ini percaya bahwa mahapatih gajah mada yang terkenal dari kerajaan majapahit adalah orang raijua, ada beberapa peninggalan yang hingga sekarang masih ada dan diyakini adalah peninggalan gajahmada, seperti dirumah adapt masih tergantung baju perang dan tobak gajah mada. Baju dari serat kayu dan daun lontar tergantung hingga sekarang di tiang utama rumah adat di raijua.

Joey rihi ga, Seba.
Berperawakan kasar berdagu lebar dengan rambut disanggul, memakai baju adapt yang telah ratusan tahun wariskan nenk moyang dengan lambing kekuatan berupa keris dan kantong yang diselipkan dipinggang sebelah kiri. Itulah sosok Deo Rai ( ketua adat) pemimpin adat tertinggi di raijua. dari cara berpakaian memang terlihat benar kalau mirip gajah mada dalam rupa rekaan para sutara dara dalam Film Film jaman dulu. Tapi orang raija sebenarnya tidak hanya berbangga memiliki hubungan erat dengan gajah mada sebab hampir di selruh pelosok di bumi raijua ada banyak benda peninggalan sejarah yang hingga saat ini masih ada, ambil saja contoh baju perang dan tombak maja ( orang raijua mengenal majapahit dengan sebutan maja,red), ada wowadu maja (batu maja,red), sumur maja dan beberap bukti emperis lainnya. Belum lagi perayaan adatnya sepertiHidu badda maja ( tangkat hewan maja,red), pehere jara maja, ( pacuan kuda ), nuni kowa maja ( menurunkan perahu maja ke laut,red) dan perayaan adapt lainnya. Hal ini cukup membuktikan bahwa orang raijua memiliki hubungan yang dekat pada zaman dulu dengan pulau raijua, pulau yang lautnya berbatasan langsung dengan negeri kanguru Australia.
Camat raijua welwm Lukas rohi yang ditemui belum lama ini mengatkan bahwa dalam kebudayaan orang raijua tidak terlepas dari budaya yang di tinggalkan kerajaan maja pahit. Apalagi masayrkat yang masih hidup dalam perkampungan adapt ( darra Rae) yang masih kekeh memagng sermua persayarkat adapt yang diwariskan para leluhur.
“ Jadi di raijua ama memang kita bisa lihat bukti yang diakui sebagai peninggalan kerajaan majapahit dan patih gajah mada, misalnya ada keris maja, ada jubah maja, ada tempat duduk maja, ada keris maja, ada rumah maja, ada perahu maja, ada sawah maja dan ada begitu banyak hal yang menurut masayarkat disini merupakan peninggalan patih gajahmada, apakah itu benar atau tidak tapi dalam budaya orang raijua itu sudah terpelihara beratus ratus tahun dan di wariskan secara turun temurun. Beta su keliling semua ama, dan bersama deo rai saya diberitahu tentang semua adat istiadat yang ada disini,” ungkap welem.
Tidak itu saja bahkan kehadiran dan kebearadaan paith gajahmada dari majapahit juga sangat kuat di buktikan dengan nama orang sabu raijua. Ditempat lain anda tak akan menemukan nama seperti di sabu raijua msalnya, raja, mojo, gaja, medo,ratu, mada. Dari nama yang ada tersebut bukan nama yang berasal dari puilau jawa atau Sumatra atau pulau lain di Indonesia nama yang berhingan dengan majapahit dan gajahmada hanya ada di sabu raijua.
Kalau dilihat dari sisi pakaian adapt yan dikenakan warna pakaian adar di raijua dan sabu berwarna dasar merah dan putih. Kalau para tua adapt meninggal mereka harus di bungkus dengan kain adapt warna putih. Begitu juga dengan pengikat kepala mereka yakni warna merah dan putih. “ jadi masayarkat disini meyakini bahwa warna merah dan putih itu berasal dari bekal yang dibawah gajahmada yakni gula berwarna merah dan kelapa berwarna putih. Salah satu makanan orang sabu jika ingin berkelana adalah Wo Peraggu ( kelapa yang dicampur gula lalu di goreng hingga kering) makanan ini tahan lama dan tidak akan basi, sehingga bisa makan berhari hari dan akan membuat orang tetap kenyang, selain itu warna putih bagi orang raijua melambangkan kekujuran dan kesuciabn sementara wara merah melambangkan mereka adalah pemberani itu yang masyarakat disini ceritakan kepada saya,” kata mantan camat fatuleu tengah welem rohi.
Terlepas dari benar tidaknya ada hunbungan anatara kerajaan majapahit dan patih gajahmada dengan masayrkat raijua, namun adapt dan budaya yang masih mereka pegang hingga saat ii patut diberi apresiasi yang tinggi oleh kita semua terutama oleh pemerhati budaya, perlu juga dikunjngi oleh mareka yang suka berwisata budaya karena yang pasti ketika anda menginjakakn kaki di tanah raijua distu anda akan menghirup uadara segar adapt dan budaya yang masih kuat mengakar dalam setiap sindi sendi kehidupan keseharian orang raijua. adapt ini pula yang tetap memproteksi mereka dari segala bentuk usaha yang bisa menluruhkan buadaya yang mereka miliki.( bersambung )

+ + + Lebih dekat dengan masyarakat tradisi di raijua (3-habis)+ + +.

** Bernafas  dalam propteksi para dewa**

Masyarakat adat disabu raijua lebih dikenal dengan sebutan jingitiu, mereka hidup dalam aturan aturan adapt yang kuat dan sangat berpengaruh dalam kehidupan keseharian mereka. Masyarakat adat jingitiu ini adalah sebutan bagi mereka yang memeluk agama resmi sehingga mereka bisa dikategorikan dalam aliran kepercayaan. Setiap orang di sabu raijua yang belum memilki sebuah agama yang resmi di sebut jingitiu dan bagi mereka yang jingitiu ada aturan aturan adat yang mengikat kehiduapan mereka. Mereka percaya bahwa Deo ( para dewa ) selalu mengatur setiap langkah kehidupan manusia. Yang mengikutinya akan diberi kemudahan dan kemakmuran yang melawan akan tertimpa bala dan bencana.
Joey Rihi Ga, Seba

Dalam kehidupan orang sabu raijua tidak pernah lepas dari upacara atau ritual adat baik itu ritual yang sederhana hingga ritual adat yang sangat sakral.  Ritual yang dilakukan dalam kehidupan orang sabu adalah sebuah lambing penghormatan bagi para dewa yang mereka yakini telah melindungi dan memilihara kehidsupan mereka selama didunia. Para dewa dalam kepercayaan jingitiu terdapat banyak dewa yang memilki tiugas masing-masing dalam menjaga dan melindungi manusia. Para dewa ada yang memberi kemakmuran ada juga yang mendatangkan bencana. Jangan heran jika anda tiba diraijua anda akan melihat begitu banyak tempat temnpat pemujaan yang disiapkan oleh masayarakat adat untuk melakukan ritual dan sesembahan bagi para dewa yang mereka tempatkan di atas atas batu atau di bawah pohon bahkan di dalam rumah adat atau tempat tinggal mereka. Masing-masing dewa memiliki namanya sendiri-sendiri sesuai dengan tugas dan perannya menjaga manusia. Ada dewa angin, dewa laut dewa hujan, dewa pertaznian, dewa kemakmuran. Dari semua dewa yang disembah orang raijua dewa yang paling tinggi kedudukannya adalah dewa dengan sebutan Deo Ama dewa ini yang yang diyakini sebagai dewa pencipta dan pemelihara kehidupan manusia serta memiliki kedudukan di atas dewa dewa yang lain. Nama para dewa ini hanya diketaui oleh para tua adat karna dianggap keramat. Percaya atu tidak jika menyebut nama salah satu dewa misalnya dewa hujan dengan kata kata keramat maka hujan pasti terjadi atau hujan bisa berhenti. 
Persembahan bagi paradewa juga dilakukan sesuai dengan kalender adat sehingga setiap ritual yang akan dilakukan harus berpedoman pada kalender adat. Begitu juga dengan setiap kegiatan masyarakat seperti menanam atau melaut dan sebagainya semaunya diatur. 
Seperti dalam acara pelantikan kepala desa ballu markus tuka belum lama ini misalnya tradisi adapt dari para ketua adat tetap dilakukan. Setelah dilantik oleh penjabat bupati sabu raijua Thobias Uly. Maka diberikan kesempatan kepada deo rai dan beni deo rai melakukan ritual khusus di depan semua hadirin yang hadir saat pelantikan kepala desa ballu. Deo rai di dampingi oleh banni deo rai membawa beberapa symbol adapt yakni desat dan pisau serta ikat pinggang. Saat memakaikan destar sang deo rai berujar dalam bahasa sakral yang bila di artikan adalah menobatkan sang kepala desa dengan nama para leluhur. Kemudian diberikan lagi sebuah pisau dengan uapacan keramat pula dari deo rai yang berarti harus berdiri sebagai pengadil dan berani mengatakan salah pada yang salah dan benar kepada yang benar,selal menggunakan kekuatan yang ada demi kemakmuran tanah leluhur dan penghuni didalamnya. Dan saat dipakaikan ikat pinggang juga disertai dengan kata kata pengutusan oleh ketua adat. Itulah kehidupan diraijua, boleh saja dilakukan upacara secara umum atau secara rsemi tapi tetap ada ruang dan kesempatan untuk dilakukan ritual secara adapt sebab walaupun sang kepala desa sudah beragama Kristen tapi masayrkat yang dipimpinnya masih banyak yang jingitiu sehingga untuk menobatkan sebagai kepala desa yang sah secara adat maka mau tidak mau harus mengikuti ritual tersebut.
Percaya atau tidak segala macam kegiatan yang berlangsung di raijua selalu dalam aturan adat yang berlaku disana, bak perawan budaya yang belum tersentuh itulah raijua pulau kecil di sebalah barat pulau sabu, penuh pesona dan mistis yang kadang sulit diterima logika tapi tetap memiliki daya tarik yang luar biasa. Tidak percaya mari berkunjung ke raijua.**


1 komentar: